Postingan

Kanvas Putih

Lampu kamar yang menyala pada tengah malam menjadi pertanda bahwa pemiliknya belum terlelap. Hening. Hanya ada suara sapuan kuas yang menjadi satu-satunya pengisi suara kamar sunyi itu. Pemiliknya terlihat sangat fokus dengan kanvas di depannya, sibuk menggores warna demi warna untuk membuat lukisannya lebih hidup. Sampai kemudian suara denting handphone berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia meletakkan kuas ke palet warna, lantas beralih mengambil handphone. Assalamualaikum Shakira, apakah kamu sudah tidur? Maaf ya, karena mengirimkan pesan ini tengah malam. Sebelumnya aku mau bilang makasih untuk waktu yang sudah kita lewati. Aku senang bisa mengenalmu. Aku bahagia pernah menyukaimu. Sangat menyenangkan membahas banyak hal denganmu. Awalnya senyum Shakira merekah kala melihat nama si pengirim pesan. Namun kalimat teratas yang barusan ia baca dari bubble chat panjang itu berhasil menciptakan kerutan di dahinya. Ada sekelibat pikiran buruk yang menghantamnya. Namun Kira, sejak a...

Waktu yang Tepat

  Sudah satu jam berlalu sejak keluarga Pratama berkumpul, sejam itu pula evaluasi yang dipimpin oleh pria berusia tujuh puluh tahunan masih berlangsung. Rutinitas itu dilakukan hampir setiap tahun agar Kakek tahu perkembangan dan pencapaian dari anak dan cucunya. Ada sekitar lima belas orang termasuk Kakek di sana. Lalu dari semua yang hadir, Imaniar Pratama selalu menjadi pihak paling mencolok. Pada usianya yang terbilang masih muda, ia selalu membawa segudang prestasi untuk diceritakan. "Kamu selalu luar biasa, Niar. Kakek bangga kepadamu. Kakek bersyukur sekali dianugerahi cucu sepertimu,” katanya usai Niar memaparkan pencapaiannya selama setahun terakhir. "Namun Kakek akan semakin bangga jika kamu bisa secepatnya menemukan pendamping. Umur dua puluh tujuh tahun termasuk usia yang matang untuk lanjut ke jenjang pernikahan, bukan?" Senyum Niar otomatis luntur setelah pertanyaan itu dilontarkan. Pertanyaan Kakek terlalu mendadak dan tanpa aba-aba. "Kamu suda...

Tepi Kisah

Man always comeback and woman always reply . Jika ada hubungan dengan siklus seperti itu, maka sejoli yang kini duduk di bibir pantai untuk menyaksikan magic hour adalah pemenangnya. Sudah lima belas menit berlalu sejak obrolan terakhir mengudara, hanya suara debur ombak yang menyelimuti keheningan keduanya.  “Cantik ya, kayak Mbak.” Cukup lama sampai Langit yang memecah kesunyian itu. Satu kalimat Langit berhasil membuat Liana tersenyum salting. Untuk ke sekian kalinya, harus diakui bahwa laki-laki itu selalu berhasil menciptakan rona merah alami di pipinya.   “Berapa lama kamu cuti?” Liana mencoba mengalihkan topik agar Langit tidak brutal mengeluarkan kalimat manis, yang bisa-bisa membuatnya tidak waras, lagi .  “Sekitar dua minggu,” jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari semburat merah yang mulai tenggelam di ufuk barat itu. “Semoga di waktu yang sebentar itu, saya diberi kesempatan untuk menghabiskannya dengan Mbak.” Liana tersenyum gamang. Mungkin jika bukan ...

Terima Kasih, Kenandra

Rania berusaha mati-matian tetap fokus pada tugas di layar laptopnya setelah secara tidak sengaja menubruk tatapan seseorang. Tangannya memang masih mampu bergerak cepat di atas keyboard , tapi pikirannya sudah terbang kemana-mana tanpa arah.  "Ran, itu Kenan bukan, sih?"  Rania otomatis mengutuk di dalam hati berkali-kali. Kenapa dari sekian banyaknya manusia yang ada di kafe malam ini, mengapa Vina harus menyadari keberadaan Kenan?  Fokus Rania semakin tidak karuan berantakan ketika Vina melambaikan tangan ke arah Kenan, bahkan memberi isyarat agar cowok itu bergabung di meja mereka.  Rania sontak menghentikan ketikannya lalu menatap kesal ke arah Vina. "Yang bener aja, Vin! Ngapain mau ngajak Kenan gabung?"  Sialnya Vina dengan entengnya menjawab, "Enggak apa-apa kan kalau kita reunian bareng? Udah lama enggak ketemu."  Rania otomatis mengembuskan napas jengah. Ini menjengkelkan karena Vina pasti tahu bahwa Rania tidak ingin ada pertemuan antara mereka....

Rumah yang Rusak

 "Begadang lagi malam ini?"  Kiana yang semula serius dengan laptopnya sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu. Di sana ada Jihan—adiknya—yang masih setia memegang gagang pintu sambil melayangkan tatapan garang.  "Janji ini yang terakhir."  Gadis berbalut piyama gambar doraemon itu otomatis mengubah posisinya menjadi bersedekap dada. " You've said it for many times. Jangan ngasih janji kalau enggak bisa menepati, Kak. Aku muak."  Kiana hendak membalas ucapan itu, tapi urung saat adiknya sudah mengambil ancang-ancang untuk mengomel. "Sekiranya sudah satu bulan aku di rumah. Nyaris setiap hari, setiap aku kebangun di tengah malam, aku selalu diam-diam mengintip dari pintu kamar Kakak yang terbuka dan hasilnya selalu sama, Kakak begadang! Padahal jelas-jelas Kakak kelihatan kelelahan. Dan aku pikir, selama aku kuliah di luar kota, kebiasaan itu Kakak lakukan setiap hari setelah jabatan Kakak naik. Bukankah begitu?"  Kiana bergeming di tempatn...

Sudah Seberisik Apa Kepalamu?

 Kalau tidak terpaksa, kamu tidak akan bisa. Ingat ya, orang hebat tidak lahir dari zona nyaman dan aman. Tidak apa-apa jika sedikit sesak napas. Hanya sesak napas, kan, tidak sampai henti napas? *** Coba deh baca kalimat-kalimat pertanyaan di bawah ini.  "Kenapa harus aku?"  "Kenapa dunia tidak adil sama aku?"  "Kenapa selalu ada aja rintangan buat mencapai apa yang aku mau?"  "Kok berat banget sih kayaknya, padahal aku lihat orang lain mulus-mulus aja langkahnya."  Apakah salah satu atau justru seluruhnya sering bergema di kepalamu? Kalau iya, coba aku mau tanya.  Kenapa kamu bisa menyimpulkan langkah mereka mulus-mulus saja sedangkan kamu melihatnya hanya dari kejauhan? Memang kamu sudah memastikannya? Bisa aja kan, pas kamu mendekat, ternyata jalan yang dia lalui ada kerikil, bebatuan, angin ribut, dan sebagainya? We never no .  Jika kamu masih denial dan menganggap langkah orang lain lebih mulus, coba deh tengok ke belakang. Coba lihat bera...

KNOW THESE 6 DISEASES THAT ATTACK THE NERVOUS SYSTEM

Gambar
Written by: Group 3, Class B 1.     Parkinson’s Source : SMC RS. Telogorejo   What is Parkinson’s disease ? Parkinson's disease was discovered by a British scientist named James Parkinson in 1817. Parkinson's disease is a progressive nervous system disease that affects the movement of the human body (hypokinetic movement disorder). This disease causes sufferers to lack control over their body movements. What cause s Parkinson’s disease ? Some of the conditions that cause Parkinson's are: -        Genetics A number of genetic factors have been shown to increase a person's risk of developing Parkinson's disease, although how exactly it makes some people more susceptible to the condition is unclear. Parkinson's disease can run in families as a result of faulty genes being passed on to children by their parents. But the disease is rarely inherited this way. -        Environmental factor Some...