Kanvas Putih
Lampu kamar yang menyala pada tengah malam menjadi pertanda bahwa pemiliknya belum terlelap. Hening. Hanya ada suara sapuan kuas yang menjadi satu-satunya pengisi suara kamar sunyi itu. Pemiliknya terlihat sangat fokus dengan kanvas di depannya, sibuk menggores warna demi warna untuk membuat lukisannya lebih hidup. Sampai kemudian suara denting handphone berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia meletakkan kuas ke palet warna, lantas beralih mengambil handphone.
Assalamualaikum Shakira, apakah kamu sudah tidur? Maaf ya, karena mengirimkan pesan ini tengah malam.
Sebelumnya aku mau bilang makasih untuk waktu yang sudah kita lewati. Aku senang bisa mengenalmu. Aku bahagia pernah menyukaimu. Sangat menyenangkan membahas banyak hal denganmu.
Awalnya senyum Shakira merekah kala melihat nama si pengirim pesan. Namun kalimat teratas yang barusan ia baca dari bubble chat panjang itu berhasil menciptakan kerutan di dahinya. Ada sekelibat pikiran buruk yang menghantamnya.
Namun Kira, sejak awal kita sama-sama tahu bahwa ini salah. Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada ujung yang baik dalam hubungan ini.
Shakira menelan air ludahnya susah payah. Kalimat tersebut membuat Shakira langsung paham kemana arah chat itu. Ada sesak yang tiba-tiba menyelinap di antara napasnya yang mulai tersekat. Matanya mulai memanas.
Besok aku mulai hectic lagi dengan perkuliahan dan pekerjaan. Boleh kan kalau kita hentikan percakapan ini? Walaupun ini berat, tapi gapapa ya kalau kita balik asing kayak dulu?
Benar saja. Perpisahan. Air mata Shakira otomatis meluruh tanpa diminta. Kali ini bukan hanya sesak yang menderanya, tapi rasa sakit yang entah mengapa terasa begitu menghunjam. Sekalipun ia tahu bahwa kisah mereka akan berujung seperti ini, tapi ternyata ia tidak pernah benar-benar siap menerimanya. Lalu mendadak memori mengenai pertemuan demi pertemuan keduanya memutar di kepalanya seperti tayangan mini seri.
Pertemuan pertama mereka terjadi dua bulan lalu, tidak sengaja papasan ketika Shakira hendak masuk lift dan Saka berjalan terburu-buru ke suatu tempat. Keduanya hanya saling menyapa dengan anggukan kepala dan senyum, tanpa mengenal satu sama lain.
Pertemuan kedua mereka terjadi saat lelaki itu menjadi salah satu pengisi materi untuk pengenalan lingkungan kampus, dimana Shakira menjadi salah satu mahasiswa baru di sana. Namanya Saka. Ia merupakan mahasiswa semester empat di fakultas dan prodi yang sama dengannya. Fakultas Seni Rupa dan Desain, Jurusan Seni Rupa Murni.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit, Saka berhasil membuat Shakira terpana. Wajahnya yang tampan, badannya yang proposional, cara bicaranya yang tenang, gesture tubuhnya yang tidak berlebihan, maupun tawa kecilnya saat melayangkan lelucon kecil. Singkatnya, ia menyukai pada semua hal yang matanya tangkap mengenai sosok Saka.
Selama ini Shakira selalu mengibaratkan hatinya seperti kanvas putih yang kosong. Ada penutup tak kasat mata yang membuat kanvas itu tidak bisa diisi oleh sembarang orang. Sebanyak apa pun laki-laki hadir dalam hidupnya, jika Shakira tidak membuka penutup itu, maka tidak ada yang bisa melukis di sana.
Namun Saka, entah bagaimana, tanpa permisi berhasil membuka penutup tak kasat mata itu. Sekalipun tanpa izin Shakira, berhasil mencoretkan warna-warna yang membuat kanvas itu tidak lagi kosong.
Tiba-tiba. Tidak terduga. Tanpa aba-aba. Seperti itulah Shakira jatuh cinta lagi. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama. Kupu-kupu yang sudah lama pergi, kini hinggap lagi jika itu berhubungan dengan Saka.
Senyum Shakira melebar saat tidak sengaja papasan dengan Saka. Perasaannya berbunga-bunga kala mereka bisa satu lift meski tanpa obrolan. Ia bahagia ketika menjadi intel dadakan hanya untuk mencari tahu banyak hal mengenai laki-laki itu. Detak jantungnya bisa tiba-tiba menggila ketika Saka masuk ke ruang kelasnya untuk mencari dan menemui temannya. Hatinya menjadi sangat damai sewaktu melihat punggung Saka yang sedang khusyuk berdoa di masjid. Ia senang dengan adrenalin mencocokkan waktu agar mereka bisa bertemu di area kampus, seolah-olah tidak sengaja.
Diam, memperhatikan dari jauh, dan meromantisasi sendiri. Begitulah kira-kira cara Shakira menyukai seseorang. Ia nyaman dengan kebiasaan itu. Selalu begitu. Bagi Shakira, cinta itu fitrah, tapi jika tidak bisa dikendalikan bisa mendatangkan mudharat, termasuk kemasiatan. Sehingga jalan ninja terbaik yang bisa dirinya ambil adalah mencintai dalam diam.
Sampai kemudian, perasaan suka dalam diam itu berubah menjadi gebrakan nyata ketika teman sekelas Shakira tiba-tiba bergerak menjadi mak comblang. Teman Shakira yang secara resmi mengenalkan mereka.
“Hai, Shakira. Salam kenal, namaku Saka.”
Sial!
Saka benar-benar memperkenalkan dirinya.
Jangan ditanya bagaimana kondisi Shakira saat itu. Satu kalimat Saka mampu mengguncang perasaannya. Jantungnya seperti mau copot saking cepat detaknya. Tiba-tiba peluh sebiji jagung membasahi dahinya. Dingin mendadak menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya Shakira ingin kabur detik itu juga.
Berusaha tampak tenang, Shakira akhirnya mendongak. Senyum Saka menyapa, semakin memborbardir hatinya. Tidak sampai di sana, cara laki-laki itu memperkenalkan diri membuatnya meleleh. Gentle. Saka adalah lelaki pertama yang memperkenalkan diri dengan menangkup tangan, bukan mengulurkan tangan hendak menjabat.
Yang ini boleh untukku tidak, Tuhan? batin Shakira mempertanyakannya.
Setelahnya mereka saling follow instagram dan tukar nomor whatsapp. Obrolan mereka lewat chat cukup intens. Terlalu cepat. Keduanya terlalu cepat untuk nyaman satu sama lain. Keduanya secara dar der dor mengungkapkan perasaannya masing-masing. Baik Saka maupun Shakira juga tanpa ragu menceritakan mengenai diri mereka, yang membuat Shakira akhirnya tahu bahwa selain aktif di kampus, menjalankan tugas sebagai mahasiswa, Saka juga bekerja. Mereka bahkan saling merekomendasikan lagu dan tontonan.
Shakira yang terbiasa dengan mencintai dalam diam, secara nekat mengambil langkah gila dengan bergerak lebih maju. Ia menceritakan Saka ke ibunya. Ia bahkan dengan berani meminta Saka kepada Tuhan lewat doanya. Nekat, tanpa pernah berpikir, mungkin suatu saat langkah itu akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Mereka tidak pernah kehabisan topik. Apa pun bisa mereka bahas dan menjadi seru. Baik mengenai hal receh sampai yang serius. Termasuk keinginan keduanya setelah kuliah. Pun, angan-angan mereka setelah menikah.
Tidak seperti sebelumnya, tenyata obrolan mengenai pernikahan ini cukup sensitif. Mereka jadi tahu bahwa keduanya memiliki visi dan misi berbeda mengenai pernikahan. Ternyata tumbuh di lingkungan yang berbeda membuat keduanya memiliki perbedaan kebiasaan yang cukup signifikan. Ada benang tak kasat mata yang membuat keyakinan mereka seperti bertolak belakang, meski satu iman.
Keduanya mencoba untuk terus membahas perbedaan itu, mencari solusi, dan membuat alternatif. Namun masalah itu ternyata seperti labirin tanpa jalan keluar. Buntu. Keduanya tidak bisa mendapatkan langkah paling tepat untuk mengatasi perbedaan tersebut.
Sejak saat itu Shakira sadar bahwa mereka tidak akan bersatu. Apalagi segala alternatif seperti hanya akan menyakiti satu sama lain.
Sayangnya, kesadaran itu tidak lantas membuat Shakira juga bisa menghadapi situasi dimana mereka harus benar-benar pisah. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Saka sebulan ini. Ia tidak ingin mereka berakhir. Sungguh, Shakira tidak sanggup.
Waalaikumsalam, Saka. Aku belum tidur, hehe. Kebetulan lagi menyelesaikan lukisanku. Soal keinginanmu untuk asing kembali, gapapa kalau itu maumu, Ka. Semoga langkahmu selalu dalam lindungan Tuhan, ya. Semoga suatu saat nanti kamu akan mendapatkan perempuan yang sesuai dengan kriteriamu, yang kebiasaan hidupnya tidak bertentangan dengan keyakinanmu. Jangan lupa untuk mengundangku jika nanti kamu menikah.
Shakira langsung mematikan handphone kemudian melemparnya ke ranjang. Ia benar-benar tidak sanggup membaca balasan pesan Saka nanti. Tatapan yang mengabur karena air mata kini sepenuhnya berada pada lukisan di depannya. Shakira sontak tertawa miris. Padahal nyaris saja Saka menjadi lukisan utuh dalam kanvasnya. Namun tiba-tiba mereka berakhir?
Tidak lucu.
Tidak apa-apa, katanya. Padahal di dalam kamar sunyi itu, ada suara tangisnya yang sesegukan untuk menerima takdir.
Semoga suatu saat mendapatkan perempuan yang diinginkan, ucapnya. Padahal dalam doanya masih tersemat nama Saka untuk menjadi pendamping hidup.
Jangan lupa mengundang ke pernikahanmu, ungkapnya. Padahal untuk membayangkan laki-laki itu bersanding dengan perempuan lain saja dirinya tidak sanggup.
Sakit. Perih. Rasanya seperti ada puluhan anak panah yang menusuknya tanpa ampun.
***
Sejak itu, Saka benar-benar menjauh dan menghindarinya. Beberapa kali mereka berpapasan, beberapa kali pula Saka pura-pura bermain handphone agar tatapan mereka tidak bertemu. Bahkan yang lebih gilanya, Saka tidak mau satu lift dengannya lagi. Laki-laki itu rela menunggu lebih lama hanya untuk menghindar. Saka bahkan unfoll dan remove dirinya dari sosial media mana pun.
Entah untuk menjaga diri sendiri, Shakira, atau keduanya agar tidak larut dalam perasaan terlalu dalam. Tapi sikap Saka yang demikian membuat Shakira lebih hancur. Setiap Saka terlihat menghindar, malam harinya Shakira pasti menangis.
Selalu ada sisi positif dan negatif atas semua hal yang terjadi. Begitulah perpisahan mereka berpengaruh pada hidup Shakira.
Sejak Saka hadir dalam hidupnya, ia melupakan prinsip hidup untuk tidak pacaran. Ia tergiur kenikmatan mengobrol dengan Saka, yang bisa memberi membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras. Ia jadi sibuk mencari perhatian Saka dibandingkan menaikkan value hidupnya.
Kemudian saat Saka memutuskan untuk berhenti komunikasi dengannya, Shakira langsung hancur lebur. Entah sudah berapa kali Shakira memohon agar sakitnya menghilang. Entah sudah berapa banyak air matanya keluar hanya untuk meminta agar ia bisa melupakan Saka jika memang laki-laki itu bukan jodohnya.
Begitulah keadaan yang membuat Shakira sadar bahwa Saka hadir dalam hidupnya hanya untuk menguji imannya, menjadi pembelajaran hidup. Karena sejatinya, ketika seseorang jatuh cinta, ada dua kemungkinan. Tuhan memberi cinta itu untuk menguji iman atau Tuhan ingin orang itu menjadi tujuan untuk mencapai jannah.
Atas apa yang terjadi pada mereka juga membuat Shakira mengerti alasan mengapa agamanya melarang pacaran atau berhubungan dekat dengan lawan jenis yang bukan mahram. Karena saat hubungan itu sudah terlalu dalam, lalu mereka putus atau berhenti, maka yang tersisa hanyalah luka. Hanya berakhir dengan melukai diri sendiri, tanpa mendatangkan manfaat sama sekali.
Luka yang belum mengering sepenuhnya, membuat Shakira memilih membiarkan lukisan pada kanvasnya terbengkalai. Tidak dihapus maupun menimpanya dengan lukisan yang baru. Hanya ditutup seperti dulu lagi sebelum Saka datang.
Energinya untuk jatuh cinta seperti sudah habis pada kisah sebelumnya. Ia memutuskan untuk fokus dengan dirinya sendiri, belajar lebih giat untuk meningkatkan ilmu pengetahuannya, membangun personal branding, dan secara ugal-ugalan mendekatkan diri kepada sang pencipta. Setidaknya jika ia gagal dalam percintaan, ia berhasil dalam pendidikan dan karirnya. Entah jodoh atau kematian yang akan menjemputnya lebih dulu, setidaknya ia sudah berusaha menjadi manusia yang lebih dan lebih baik lagi.
***
Dalam sebuah masjid, beberapa detik lalu, kata “sah” menggema usai akad nikah berhasil diucapkan dengan lancar dan sempurna. Menandakan bahwa terdapat pasangan yang resmi menjadi suami-istri. Halal terikat dalam sebuah janji pernikahan.
Shakira tersenyum tulus menyaksikan dua insan yang resmi menjadi suami istri itu bertemu. Saling melayangkan senyum sebelum tangan mereka menyatu.
“Kamu aman?”
Shakira menoleh ke samping, menatap pria yang kini menatapnya dengan khawatir. Satu ulas senyum ia layangkan, lantas mengangguk pelan. “Mereka terlihat serasi.”
Delapan tahun berlalu, Shakira dan Saka sudah melangkah begitu jauh di jalan masing-masing. Saling memunggungi. Tanpa kabar satu sama lain. Mungkin di fase itu, keduanya sibuk memperbaiki diri, mewujudkan impian, membahagiakan keluarga, dan mencapai karir cemerlang. Sama-sama berusaha menjaga diri sampai dipertemukan dengan jodohnya masing-masing.
Mungkin dalam perjalanan panjang itu, hanya Shakira yang berharap suatu saat nanti mereka bisa dipersatukan kembali. Sampai kemudian kabar bahwa Saka lamaran mencuat, yang membuat harapan itu langsung porak poranda.
Lalu lukisan dalam kanvas Shakira ternyata tidak pernah benar-benar selesai. Karena objek utamanya sudah pergi tanpa bisa lagi ia gapai.
Lukisan itu harus ia buang jauh-jauh agar bisa menggantinya dengan kanvas baru. Memulai kembali dengan lukisan berbeda, yang lebih menarik dan berwarna.
Atas semua hal yang terjadi, Shakira sadar, kalau dulu Saka tidak melepaskannya, mungkin ia tidak akan bertemu dengan tokoh utama baru, yang ternyata lebih berani untuk mengusahakannya. Jika Saka tidak pergi dari hidupnya, mungkin ia tidak akan pernah merasakan dicintai sebegitu hebatnya. Bersama orang yang tidak pernah ia sangka hadir di hidupnya.
Tokoh yang membuat Shakira paham kalau ternyata dulu ia tidak pernah dipertahankan. Dilepaskan begitu saja tanpa usaha yang berarti. Ternyata sejak awal memang bukan dirinya yang menjadi tujuan Saka.
Tokoh yang juga membuka lebar-lebar keyakinan Shakira untuk berani mengikhlaskan agar bisa bertemu dengan pemeran baik lainnya.
Namun yang perlu dipertegas, Saka itu baik. Bukan tokoh jahat di dalam cerita Shakira. Jadi sesakit apa pun proses untuk mengikhlaskannya, Shakira akan selalu dan selalu berterima kasih pernah dipertemukan dengan Saka. Kisahnya singkat, tapi Shakira belajar banyak. Meski jika waktu bisa diulang, Shakira akan memilih mengabaikan Saka kala itu. Agar mereka tetap menjadi dua orang asing yang berpapasan tanpa pernah saling mengenal.
“Setelah ini, gantian kita, ya?”
Shakira mengangguk terharu. Semoga. Semoga kali ini benar-benar berakhir dengan ujung yang ia harapkan.
“Terima kasih sudah hadir di hidupku, Mas.”
Kini ia benar-benar sudah sembuh. Sudah berdamai dengan kenyataan. Pada takdir Tuhan yang pernah tidak sesuai keinginannya. Pada segala skenario yang sudah Tuhan rancang untuknya. Mungkin jika hari itu tidak pernah ada, maka ia tidak akan bertumbuh. Tidak akan berani untuk memulai melukis lagi pada kanvas yang baru.
Mungkin benar, ia harus melewati orang yang salah terlebih dahulu sebelum menemukan yang tepat,
Tamat.
Jepara, 19 April 2026
IkhdaNaa
Komentar
Posting Komentar