Terima Kasih, Kenandra

Rania berusaha mati-matian tetap fokus pada tugas di layar laptopnya setelah secara tidak sengaja menubruk tatapan seseorang. Tangannya memang masih mampu bergerak cepat di atas keyboard, tapi pikirannya sudah terbang kemana-mana tanpa arah. 

"Ran, itu Kenan bukan, sih?" 

Rania otomatis mengutuk di dalam hati berkali-kali. Kenapa dari sekian banyaknya manusia yang ada di kafe malam ini, mengapa Vina harus menyadari keberadaan Kenan? 

Fokus Rania semakin tidak karuan berantakan ketika Vina melambaikan tangan ke arah Kenan, bahkan memberi isyarat agar cowok itu bergabung di meja mereka. 

Rania sontak menghentikan ketikannya lalu menatap kesal ke arah Vina. "Yang bener aja, Vin! Ngapain mau ngajak Kenan gabung?" 

Sialnya Vina dengan entengnya menjawab, "Enggak apa-apa kan kalau kita reunian bareng? Udah lama enggak ketemu." 

Rania otomatis mengembuskan napas jengah. Ini menjengkelkan karena Vina pasti tahu bahwa Rania tidak ingin ada pertemuan antara mereka. 

Rania melirik ke arah Kenan, berharap cowok itu tidak menanggapi permintaan konyol Vina. Namun, lagi lagi kenyataan tidak berpihak kepadanya. Kenan dengan santainya justru berjalan ke arah meja mereka. 

Rania panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Seolah berkonspirasi dengan keadaan, pikirannya mendadak buntu tanpa menemukan solusi paling masuk akal untuk menghindar. 

Mampus. 

"Hai Ran, long time no see," ucapnya sembari tersenyum. 

Rania sontak menahan napasnya sesaat. Detak jantungnya berpacu gila-gilaan. Setelah empat tahun berlalu, untuk pertama kalinya, ia mendengar suara itu lagi. 

Beberapa detik berikutnya, Rania memutuskan untuk mendongak, menatap ke arah Kenan. Ia mengerjap beberapa kali, masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. 

"Gimana kabarmu, Ran?" 

Rania tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikan perasaannya saat ini. Rasanya benar-benar campur aduk. Ia bahkan tidak mengerti harus memasang mimik wajah seperti apa untuk menyambut pertanyaan Kenan. 

"Baik." 

Setelah jawaban itu mengudara, keduanya terdiam cukup lama. Mereka saling menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Seakan-akan ada begitu banyak kalimat yang masih tertahan satu sama lain. Seolah-olah ada yang belum selesai di antara mereka. 

"Cuma Rania aja nih yang ditanya?" Vina bertanya sembari menunjukkan senyum jahilnya. 

Kenan dan Rania kompak menoleh ke arah Vina. Rania dengan senyum canggungnya, sedangkan Kenan dengan kekehan kecilnya. 

"Aku yakin kamu baik-baik saja," sahut Kenan dengan nada bicaranya yang jenaka. 

Kenan mengambil alih kursi di samping Vina, berhadapan dengan posisi duduk Rania. Usai saling menanyakan kabar satu sama lain, ketiganya membicarakan tentang kehidupan empat tahun belakang. Entah tentang drama tugas kuliah, praktikum, pertemanan, organisasi, bahkan percintaan. 

Namun berbeda dengan Vina dan Kenan yang banyak berceloteh, kalimat yang Rania lontarkan bisa dihitung jari. Karena jujur, selain canggung dengan situasi yang ada, lidahnya juga mendadak kelu untuk berbicara. 

Mungkin keadaan Rania tidak akan separah itu jika yang ada di hadapannya saat ini bukan Kenan. Kenandra Yudhistira. Cinta pertamanya. Sosok yang selama empat tahun terakhir berusaha ia lupakan dengan segenap jiwa dan raga. 

Lalu dibandingkan dengan pencerita yang handal, Rania memilih menjadi pendengar yang baik. 

Pada proses itu, Rania refleks memberikan penerimaan positif terhadap seluruh tindakan Kenan. Matanya berbinar saat menatap antusiasme Kenan melayangkan berbagai topik cerita. Senyumnya turut merekah ketika melihat segala kerandoman dan kehebohan Kenan. Tawanya terdengar renyah setelah Kenan melontarkan lelucon. 

Sampai kemudian, tibalah waktu dimana mereka harus berpisah.  

"Hati-hati di jalan, Rania." 

Rania berdiri dari tempat duduknya lalu menjawab, "Oke, kamu juga."

"Belum selesai kalimatnya. Kalau udah di hati jangan jalan-jalan, ya, Ran." 

Kenandra sialan! Bisa-bisanya ia mengatakan itu dengan tenang, lalu menyengir lebar seolah tidak terjadi apa pun. 

Sedangkan di pihak lawan ada Rania yang mati-matian menahan diri untuk tidak tersenyum bodoh. Perasaan berbunga-bunga itu tidak mampu dirinya kendalikan hingga ia memilih mengangguk sekilas lalu berbalik badan. Ia ingin secepatnya menjauh dari Kenan karena yakin seratus persen kalau pipinya sudah bersemu merah.  

Hingga akhirnya, pada malam itu, Rania menyadari dua hal. 

Rania Pratiwi gagal untuk melupakan cinta pertamanya. 

Ia masih tertarik dan menyukai banyak hal dalam diri Kenan. 

*

Obrolan panjang kemarin malam membuat Rania dan Kenan akhirnya bertukar nomor WhatsApp. Awalnya Rania mengira bahwa Kenan tidak akan menghubunginya dalam waktu dekat, tapi perkiraannya meleset karena hari berikutnya Kenan mengirim pesan basa-basi kepadanya. 

Seharusnya Rania memang mengabaikan pesan dari Kenan setelah perjuangan panjang untuk move on. Namun sekali lagi, Rania tidak berhasil. Notifikasi pesan Kenan ternyata masih membahagiakan untuknya.

Basa-basi berlanjut dengan saling merekomendasikan tontonan dan bacaan, serta membicarakan topik-topik yang sedang hangat di twitter. Kesukaan yang sama juga membuat keduanya tak jarang membahas tentang pertandingan bola yang sedang berlangsung. 

Komunikasi itu memang tidak terlalu intens, tapi cukup mewarnai keseharian Rania yang semula monoton. Kupu-kupu yang semula sudah pergi menjauh, kini berterbangan lagi di hatinya. 

Lalu entah siapa yang memulai terlebih dahulu, mereka mulai intens memberikan kabar satu sama lain. Mereka berbagi cerita mengenai kehidupan perkuliahan di kota masing-masing meski hanya via chat

Seperti tidak ada sekat, Rania mulai berani untuk membagikan hal-hal kesukaannya dan memberikan kisah random kepada Kenan. Awalnya Rania menyangka bahwa akan ada respon negatif atas hal itu dari Kenan. Tapi tidak. 

Kenandra tidak pernah menghakimi ceritanya. 

Kenandra Yudhistira selalu merespon baik apa pun topik bahasannya. 

Diperlakukan seperti itu, jadi bagaimana mungkin Rania bisa melanjutkan misinya untuk melupakan Kenan? Yang ada Rania justru semakin menyukai sosok itu, bukan? 

Ia nyaman dengan kehadiran Kenan yang beberapa hari terakhir mewarnai kesehariannya. Ia selalu bahagia setiap kali nama Kenan muncul di bar notifikasi ponselnya. 

Prosesnya terjadi begitu saja, hingga tanpa sadar Rania dan Kenan tidak lagi hanya membahas cerita biasa. Mereka mulai menyelam pada kehidupan pribadi masing-masing, bahkan sampai menerjang hal sensitif yang menyangkut perasaan. 

Sebenarnya ada banyak kode yang Kenan kirimkan sebagai bentuk pengakuan cinta secara tersirat. Bahkan ada pula isyarat tersembunyi bentuk rindunya cowok itu terhadap Rania. Namun, atas semua hal itu, Rania tidak mau berharap terlalu jauh. Rania selalu menganggap bahwa Kenan tidak pernah serius. Cowok itu tipe jenaka yang suka melayangkan banyak lelucon. Baginya mau seribu kode yang Kenan berikan, jika cowok itu tidak mengungkapkannya secara resmi, Rania akan tetap menganggap itu candaan.

Karena itu satu-satunya tamengnya agar tidak sakit hati. Jikalau suatu saat nanti, memang bukan dirinya yang ada di hati Kenan. Jikalau ternyata komunikasi intens yang mereka lakukan hanyalah kegabutan Kenan untuk mengisi waktu luang. 

Rania saat ini sedang berusaha untuk tidak mempermasalahkan apa pun. Apalagi setelah tahu bahwa usahanya selama empat tahun terakhir untuk move on gagal total, ia akhirnya memilih untuk menikmati rasa suka dan kagumnya pada Kenan. Ia memutuskan untuk menikmati kebahagiaan ketika bertukar pesan dengan Kenan. Sekalipun dalam keadaan dirinya mencintai sendirian. 

Prinsip itu masih terasa baik-baik saja sebelum Rania menemukan sebuah penggalan video ceramah tentang batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam agamanya. 

Ikhtilat. Istilah gampangnya adalah berbaurnya lawan jenis yang bukan mahram tanpa tujuan yang jelas dan terlalu intens. Berpontensi memancing perbuatan tidak baik maupun memicu fitnah. 

Rania merenung cukup lama untuk masalah satu itu. Meski percakapan keduanya tidak pernah sekalipun mengarah ke hal 'kotor', tapi Rania tetap khawatir jika komunikasi itu dilanjutkan, ke depannya hanya akan mendatangkan mudharat untuk mereka. Lalu Rania tidak pernah siap untuk itu. 

Haram tetaplah haram meski seluruh dunia melakukannya. Berkedok seislami apapun hubungan mereka, tidak akan pernah menjadi halal sebelum akad. Jika Al-quran mengatakan haram, maka logika dan pendapatmu tidak lagi dibutuhkan. 

Sampai kemudian, Rania memutuskan untuk berhenti menghubungi Kenandra. 

Rania menatap kembali pesan terakhir yang Kenan kirimkan, sebelum akhirnya menekan tombol power cukup lama dan memutuskan untuk mematikan ponselnya. 

"Untuk terakhir kalinya, terima kasih, Kenandra Yudhistira."

Satu hari, seminggu, sebulan, rasanya sangat berat. Hampa. Kosong. Sedih. Bagaimana tidak? Dari yang semula intens tiba-tiba berhenti begitu saja. Layaknya laju motor dengan kecepatan tinggi lalu ngerem mendadak, pasti pengemudinya akan kewalahan, 'bukan? 

Ternyata sebaik apapun alasannya, perpisahan tetap mengerikan dan mendatangkan luka mendalam. 

Rania benar-benar mencoba melanjutkan hidup. Berusaha keras mengikhlaskan dan melepaskan. Tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa "Yang ditetapkan untukmu, tidak akan pernah melewatkanmu".

"Tuhan, aku mencintainya, tapi aku akan melepaskannya karena tidak ingin melanggar aturan-Mu lebih jauh lagi. Aku tidak tahu Engkau akan mempertemukan kami lagi di masa depan atau tidak, tapi aku ataupun orang lain yang kelak akan menjadi jodohnya, tolong izinkan kami untuk sama-sama bahagia." 

Setelah itu, seperti berkonspirasi dengan semesta, Kenandra juga tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan laki-laki itu sudah tidak terlihat sebagai penonton story WhatsApp ataupun memposting sesuatu. 

Paket kombonya mereka tidak pernah bertemu di kebetulan mana pun. Lalu Rania tidak memiliki energi untuk jatuh cinta, lagi. 

Tamat. 

Jepara, 20 Maret 2025

IkhdaNaa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tepi Kisah

Rumah yang Rusak