Rumah yang Rusak
"Begadang lagi malam ini?"
Kiana yang semula serius dengan laptopnya sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu. Di sana ada Jihan—adiknya—yang masih setia memegang gagang pintu sambil melayangkan tatapan garang.
"Janji ini yang terakhir."
Gadis berbalut piyama gambar doraemon itu otomatis mengubah posisinya menjadi bersedekap dada. "You've said it for many times. Jangan ngasih janji kalau enggak bisa menepati, Kak. Aku muak."
Kiana hendak membalas ucapan itu, tapi urung saat adiknya sudah mengambil ancang-ancang untuk mengomel. "Sekiranya sudah satu bulan aku di rumah. Nyaris setiap hari, setiap aku kebangun di tengah malam, aku selalu diam-diam mengintip dari pintu kamar Kakak yang terbuka dan hasilnya selalu sama, Kakak begadang! Padahal jelas-jelas Kakak kelihatan kelelahan. Dan aku pikir, selama aku kuliah di luar kota, kebiasaan itu Kakak lakukan setiap hari setelah jabatan Kakak naik. Bukankah begitu?"
Kiana bergeming di tempatnya. Ia tidak pernah tahu bahwa selama ini Jihan diam-diam memperhatikannya.
"Harusnya Kakak tahu tentang informasi sederhana ini, kalau dari seluruh jurnal yang aku baca, semua konsisten dan membahas hal yang sama, kalau begadang bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk stroke dan serangan jantung. Tahu kan endingnya gimana?"
Ada jeda singkat sebelum sang adik melanjutkan kalimatnya. "Mati. Kakak mau mati muda? Kakak mau ninggalin aku?"
Suara yang semula keras dan tegas semakin memelan kala pertanyaan itu dilayangkan. Tatapan yang tadinya ganas berubah layu seiring dengan kepala yang tertunduk. Kedua tangan Jihan juga terlihat mengepal kuat.
Ketika satu-satunya suara di antara mereka hanya isak tangis adiknya, Kiana dengan cepat berdiri dari tempat duduk lalu memeluk Jihan.
"Emang enggak cukup Ibu dan Ayah aja yang pergi? Kalau Kakak ikutan, aku sama siapa?"
Pertanyaan sederhana itu nyatanya melesat bagaikan panah tak kasat mata yang menikam dadanya sangat kuat. Ia tidak pernah tahu bahwa diam-diam atas berisiknya sang adik mengingatkan ini itu, adiknya takut kehilangan, sekali lagi.
"Maaf. Maaf bikin kamu sekhawatir ini. Maaf karena Kakak enggak pernah mau tahu tentang perasaan kamu yang satu ini."
Jihan menggeleng keras. "Enggak. Bukan sama aku, tapi sama diri sendiri. Kakak udah terlalu jahat sama diri Kakak. Kakak udah kelewatan memforsir diri Kakak sendiri tanpa ngasih space untuk istirahat."
Di tengah segala emosi yang berkecamuk itu, mata Kiana tidak sengaja melihat kerlap-kerlip bintang angkasa melalui jendelanya yang belum ia tutup. Senyum miris sontak terukir di bibirnya detik itu juga.
Bintang di angkasa, masih menjadi hal yang tidak ingin ia lihat. Karena memandang bintang, sama halnya seperti menyaksikan kebodohannya di masa lalu.
Masa dimana ia masih memiliki banyak kebahagiaan di dunia ini. Waktu ketika ayah dan ibu dengan kompaknya memindahkan kursi panjang yang terbuat dari kayu dari dalam ke teras rumah. Mereka duduk berempat, Kiana dan Jihan di tengah, sedangkan ayah dan ibu masing-masing di samping. Mereka dengan mata berseri-seri menatap ke arah langit, menyaksikan bintang-bintang yang berkelip di sana. Rutinitas yang dilakukan nyaris setiap hari.
Mereka juga sesekali memanjatkan doa ketika ada bintang 'jatuh', dengan keyakinan bahwa mungkin saja Tuhan lebih cepat mengabulkan permintaan mereka. Kala itu, Kiana hanya berdoa hal sederhana. Sesederhana bisa makan donat dan makanan enak untuk esok hari.
Doanya pun terkabulkan, tapi siapa yang akan menyangka bahwa hal itu harus ia bayar mahal dengan lebih banyak air mata. Bongkahan bom realitas yang tiba-tiba meledak menghancurkan rumahnya. Realitas mengenai ayah dan ibu yang memutuskan untuk berpisah. Ia pun merasa sangat bodoh, bukan karena berdoa, tapi menyesal mengapa permintaan yang ia panjatkan kala itu hanya hal receh, alih-alih memohon agar kebersamaan mereka bisa abadi.
Tepat dua belas tahun lalu. Dunianya pun seketika berubah. Kedua orang tuanya memilih jalan masing-masing, mencari kebahagiaan sendiri-sendiri, meninggalkan dirinya dan Jihan di rumah yang sepi. Tidak ada lagi ayah yang akan mengajarinya mengaji. Tidak ada lagi ibu yang dengan senyum sumringah menawarkan hasil masakan terbaiknya. Tidak ada lagi cerita penuh lelucon yang kerap kali menghiasi kamarnya sebelum tidur.
Impian-impian besar yang sudah ia susun dengan rapi mulai bercecer satu per satu, cerita-cerita yang hendak ia bagikan sudah rusak termakan oleh akhir yang tidak indah, dan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia layangkan hanya bisa terpendam di kepala tanpa menemukan jawabannya. Percaya atau tidak, perpisahan mereka mematahkan sebelah sayapnya. Bahkan hanya menyisakan puing-puing harapan yang belum sepenuhnya bisa ia genggam.
Bertahun-tahun, Kiana mencoba untuk berdamai dan mengikhlaskan segalanya. Sebagai sosok sulung, ia sepenuhnya sadar bahwa bukan hanya dirinya saja yang terluka, tapi adiknya juga. Apalagi sang adik masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak lagi bersama.
Lalu di tengah luka yang masih basah, ia memberanikan diri untuk bangkit. Kehidupan akan tetap berlanjut, tanpa peduli dengan dirinya yang nyaris mati. Ia berusaha tetap 'hidup' setidaknya untuk sang adik. Ia mulai menyusun kembali kepingan-kepingan harapan yang mungkin masih bisa diselamatkan.
Ia menerjang badai, menutup telinga dari cuitan dari tetangga yang sibuk mengurusi hidupnya, dan melangkah tertatih-tatih menapaki jalan demi jalan untuk menjadi 'manusia'. Hanya demi bisa berdiri tegak di kaki sendiri tanpa harus mengandalkan siapa pun.
Kiana seketika dipaksa untuk mandiri oleh keadaan. Ia yang seharusnya bisa menikmati masa kecilnya bersama keluarga yang utuh, justru harus terombang-ambing dan babak belur oleh kenyataan.
Waktu berlalu dan apa yang ia perjuangkan selama ini membuahkan hasil. Saat ini, setelah proses panjang itu, ia berhasil duduk di kursi manajer di suatu perusahaan. Kedudukan yang cukup menjanjikan hingga bisa memberikan kehidupan layak dan fasilitas mewah untuk adiknya. Ia juga bisa membuat adiknya mengenyam pendidikan tinggi.
Jihan menguraikan pelukan Kiana, lalu meletakkan kedua tangan di masing-masing bahu kakaknya. "Apa yang Kakak berikan ke aku itu udah lebih dari cukup. Kakak hebat. Kalau ada kata yang lebih dari 'membanggakan', aku pasti akan bilang itu. I'm so proud of you, Kak. Sekarang Kakak mau bekerja sekeras apa lagi untuk membuktikan diri?"
Atas apa yang sudah terjadi, adiknya benar. Selama ini segala yang ia lakukan memang untuk membuktikan diri. Untuk membuktikan bahwa adiknya tidak akan mengalami apa yang ia rasakan dulu ketika dirinya bahkan tidak bisa memakan donat. Untuk membuktikan bahwa ia mampu menjadi sukses meski dengan hantaman cacian. Bahkan untuk membuktikan diri kepada kedua orang tuanya bahwa ia bisa jadi yang membanggakan.
Ia terlalu sibuk dengan ekspektasi orang lain, sampai lupa bahwa ia hanyalah manusia biasa. Jika ia mungkin sekarang sudah menjadi rumah yang nyaman untuk adiknya mengadu dan bersandar, lalu kemana sebenarnya rumah untuknya 'pulang'?
"Sorry for say it, tapi sejak awal kita sama-sama tahu kalau sesukses apa pun kita di masa depan, enggak akan pernah mengembalikan cemara yang sudah runtuh itu menjadi utuh kembali. Bersatunya ayah dan ibu adalah ketidakmungkinan yang kalau dipaksakan pasti bakal membuat luka kita makin bertambah."
Kiana membisu di tempatnya. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ia hentikan. Apakah ia melewatkan setiap proses pertumbuhan Jihan sampai tidak sadar bahwa gadis mungil di depannya sekarang sudah dewasa. Bahkan kalimat yang diutarakan lebih tertata dan bijaksana dibandingkan dirinya.
Dulu Kiana memang menganggap bahwa satu-satunya jalan agar kedua orang tuanya bersatu adalah dengan menjadi sukses. Namun saat kesuksesan itu sudah ia raih, nyatanya jalan itu tidak pernah terbuka. Orang tuanya tidak bisa kembali seperti dulu.
"Sudah ya, Kak, jangan bikin diri Kakak makin babak belur. Tolong pikirkan tentang diri Kakak sendiri setelah ini."
Selanjutnya Kiana merengkuh kembali tubuh Jihan. Untuk seluruh jalan hidup yang digariskan kepadanya, Kiana tidak akan pernah berhenti bersyukur karena Jihan hidup di dunia ini sebagai adiknya. Jihan dan omelannya yang akan membuatnya tetap berada di jalan lurus.
"Terima kasih karena sudah lahir sebagai adik Kakak. You are the most incredible one that I have." Kiana mengusap punggung Jihan dengan pelan. "Tolong tetap berisik seperti ini kalau Kakak salah langkah."
Kiana dan Jihan adalah satu dari sekian banyak kisah tentang rumah yang sudah rusak. Mereka yang terseok-seok untuk mencari obat. Berusaha menyembuhkan lukanya yang mungkin tidak akan pernah kering. Menata kembali kepingan harapan yang masih tersisa. Lalu membuktikan bahwa rumah yang rusak itu tidak membuat mereka ikutan 'rusak'.
Tamat.
Based on true story.
Jepara, 6 Maret 2025
IkhdaNaa
Hidup terus berjalan tapi aku merasa terjebak di tempat yang sama..sejauh apapun aku melangkah dan berlari jiwaku terpatri dalam memori kelam yang tak pernah lekang.. diberkatilah selalu kalian jiwa jiwa yang hebat that not your mistake but your feat.. and you must finish that with brave !!
BalasHapusAnd so proud of you karena bisa sampai di titik sejauh ini💜
Hapus