Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

Terima Kasih, Kenandra

Rania berusaha mati-matian tetap fokus pada tugas di layar laptopnya setelah secara tidak sengaja menubruk tatapan seseorang. Tangannya memang masih mampu bergerak cepat di atas keyboard , tapi pikirannya sudah terbang kemana-mana tanpa arah.  "Ran, itu Kenan bukan, sih?"  Rania otomatis mengutuk di dalam hati berkali-kali. Kenapa dari sekian banyaknya manusia yang ada di kafe malam ini, mengapa Vina harus menyadari keberadaan Kenan?  Fokus Rania semakin tidak karuan berantakan ketika Vina melambaikan tangan ke arah Kenan, bahkan memberi isyarat agar cowok itu bergabung di meja mereka.  Rania sontak menghentikan ketikannya lalu menatap kesal ke arah Vina. "Yang bener aja, Vin! Ngapain mau ngajak Kenan gabung?"  Sialnya Vina dengan entengnya menjawab, "Enggak apa-apa kan kalau kita reunian bareng? Udah lama enggak ketemu."  Rania otomatis mengembuskan napas jengah. Ini menjengkelkan karena Vina pasti tahu bahwa Rania tidak ingin ada pertemuan antara mereka....

Rumah yang Rusak

 "Begadang lagi malam ini?"  Kiana yang semula serius dengan laptopnya sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu. Di sana ada Jihan—adiknya—yang masih setia memegang gagang pintu sambil melayangkan tatapan garang.  "Janji ini yang terakhir."  Gadis berbalut piyama gambar doraemon itu otomatis mengubah posisinya menjadi bersedekap dada. " You've said it for many times. Jangan ngasih janji kalau enggak bisa menepati, Kak. Aku muak."  Kiana hendak membalas ucapan itu, tapi urung saat adiknya sudah mengambil ancang-ancang untuk mengomel. "Sekiranya sudah satu bulan aku di rumah. Nyaris setiap hari, setiap aku kebangun di tengah malam, aku selalu diam-diam mengintip dari pintu kamar Kakak yang terbuka dan hasilnya selalu sama, Kakak begadang! Padahal jelas-jelas Kakak kelihatan kelelahan. Dan aku pikir, selama aku kuliah di luar kota, kebiasaan itu Kakak lakukan setiap hari setelah jabatan Kakak naik. Bukankah begitu?"  Kiana bergeming di tempatn...