Terima Kasih, Kenandra
Rania berusaha mati-matian tetap fokus pada tugas di layar laptopnya setelah secara tidak sengaja menubruk tatapan seseorang. Tangannya memang masih mampu bergerak cepat di atas keyboard , tapi pikirannya sudah terbang kemana-mana tanpa arah. "Ran, itu Kenan bukan, sih?" Rania otomatis mengutuk di dalam hati berkali-kali. Kenapa dari sekian banyaknya manusia yang ada di kafe malam ini, mengapa Vina harus menyadari keberadaan Kenan? Fokus Rania semakin tidak karuan berantakan ketika Vina melambaikan tangan ke arah Kenan, bahkan memberi isyarat agar cowok itu bergabung di meja mereka. Rania sontak menghentikan ketikannya lalu menatap kesal ke arah Vina. "Yang bener aja, Vin! Ngapain mau ngajak Kenan gabung?" Sialnya Vina dengan entengnya menjawab, "Enggak apa-apa kan kalau kita reunian bareng? Udah lama enggak ketemu." Rania otomatis mengembuskan napas jengah. Ini menjengkelkan karena Vina pasti tahu bahwa Rania tidak ingin ada pertemuan antara mereka....