Tepi Kisah
Man always comeback and woman always reply. Jika ada hubungan dengan siklus seperti itu, maka sejoli yang kini duduk di bibir pantai untuk menyaksikan magic hour adalah pemenangnya. Sudah lima belas menit berlalu sejak obrolan terakhir mengudara, hanya suara debur ombak yang menyelimuti keheningan keduanya.
“Cantik ya, kayak Mbak.”
Cukup lama sampai Langit yang memecah kesunyian itu. Satu kalimat Langit berhasil membuat Liana tersenyum salting. Untuk ke sekian kalinya, harus diakui bahwa laki-laki itu selalu berhasil menciptakan rona merah alami di pipinya.
“Berapa lama kamu cuti?” Liana mencoba mengalihkan topik agar Langit tidak brutal mengeluarkan kalimat manis, yang bisa-bisa membuatnya tidak waras, lagi.
“Sekitar dua minggu,” jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari semburat merah yang mulai tenggelam di ufuk barat itu. “Semoga di waktu yang sebentar itu, saya diberi kesempatan untuk menghabiskannya dengan Mbak.”
Liana tersenyum gamang. Mungkin jika bukan Langit yang mengatakan itu, Liana dengan senang hati menyambut. Sayangnya itu Langit. Langit yang sama yang membuatnya menangis sesegukan nyaris setiap hari pada minggu pertama hubungan mereka berakhir. Langit yang pernah mengatakan ingin hidup bersama, tapi justru mengkhianatinya hingga mereka menjadi asing. Kepercayaannya sudah dihancurkan berkali-kali, menjadi puing-puing yang bercecer dimana-mana.
“Kenapa harus aku? Bukannya kamu memiliki kekasih?”
“Sudah putus.”
Kali ini Liana sontak tertawa miris. “Aneh ya, padahal di dahiku tidak ada tulisan ‘tempat sampah’, tapi kok bisa-bisanya dijadikan tempat pembuangan terus.”
Langit sontak menoleh. Belum sempat suara laki-laki itu keluar, Liana sudah terlebih dahulu melanjutkan ucapannya. “Kenapa? Apa karena aku gampang dibodohi? Apa karena cuma aku yang bisa kamu mainkan? Yang bisa kamu gapai dan buang seenaknya? Kamu datang pas lagi sedih doang, pas bahagia kemana aja?”
Ada kilatan amarah dari tatapan Liana yang kini beradu dengan iris mata Langit. “Sick! Orang jahat kamu!”
Liana ingin sekali marah, memaki-maki, dan menyumpah-serapahi laki-laki di sampingnya. Namun tidak terlaksana karena ia sadar bahwa ini bukan sepenuhnya salah Langit. Ia yang bodoh karena selalu dan selalu memberi kesempatan, berpikir bahwa Langit akan berubah, mengira bahwa hubungan mereka bisa diperbaiki. Benteng pertahanannya selalu berhasil dirobohkan dengan mulut manis laki-laki itu.
Seminggu yang lalu, tepat satu tahun lamanya mereka putus komunikasi, Langit secara mendadak menghubunginya lagi. Laki-laki itu mengatakan akan balik kampung dan menemuinya. Harusnya jika Liana berhasil move on, ia bisa dengan tegas menolak. Ia bisa dengan lantang mengatakan kepada Langit agar menjauhinya. Sayangnya, Langit masih memiliki ruang tertentu di dalam hatinya. Laki-laki itu masih menjadi alasan mengapa tidak ada sosok lain yang menarik perhatiannya.
“Mbak bebas mengatai saya. Bebas menganggap saya jahat atau yang lain.” Langit secara impulsif membawa kedua tangan Liana dalam rangkumannya. “Tapi percaya atau enggak, saya masih suka sama Mbak. Setiap kali menjalin hubungan, saya selalu membandingkan kalian. Mbak itu istimewa. Tidak tergantikan. Tidak peduli sejauh dan selama apa pun saya pergi, pada akhirnya Mbak menjadi satu-satunya tempat ternyaman saya untuk pulang.”
Liana sontak termangu.
Kali-kali tolong ingatkan Liana bahwa laki-laki yang ada di sampingnya ini memang memiliki jutaan kalimat manis yang tidak akan ada habisnya. Tolong beritahu dirinya bahwa itu hanyalah bualan semata, yang tidak berarti apa-apa. Minta ia untuk tidak menjatuhkan hati untuk ke sekian kali. Barangkali ia lupa tentang lukanya kala itu. Mungkin ia tidak ingat bagaimana usahanya untuk sembuh setelah berkali-kali dikecewakan.
Salah. Tidak seharusnya begitu. Sikap Langit yang demikian justru membuat ia maupun kekasih laki-laki itu kelak akan sama-sama tersakiti. Liana tahu, tapi cara kerja otaknya kini sedang tidak waras sehingga tidak tahu harus merespon seperti apa.
“Kayaknya kita udah terlalu lama di sini.” Kalimat itu terucap setelah Liana tersadar dari lamunannya. Ia melepaskan genggaman laki-laki itu, lalu berdiri dari tempat. “Kita mampir ke masjid untuk salat magrib, ya.”
Langit mengangguk. Laki-laki itu sontak berdiri lantas berjalan terlebih dahulu. Liana yang melihat punggung Langit perlahan menjauh langsung menghela napas lega. Ia menepuk pelan dadanya sambil berkata, “Jangan ya, Liana. Jangan baper. Cukup. Jangan mengulangi kesalahan yang sama.”
***
“Ayo.” Liana yang baru saja meletakkan helm di kaca spion sontak mengajak Langit untuk masuk.
“Duluan aja Mbak, saya mau angkat telepon dulu.”
“Oke, tapi jangan lama-lama, ya. Soalnya waktu magrib itu pendek.”
Anggukan kepala dari Langit membuat Liana lantas masuk ke dalam masjid terlebih dahulu. Ia mengambil air wudu, mengenakan mukena, lalu menunaikan salat.
Liana kira saat ia kembali, Langit sudah beranjak dari tempatnya. Namun tidak, laki-laki itu masih di posisi yang sama, kali ini bermain ponsel.
Perempuan itu tidak mau menerka-nerka sehingga memilih untuk bertanya, “Sudah salat? Kok kayaknya cepet banget.”
Langit menggeleng. “Nanti di rumah aja, Mbak.”
Liana refleks mengecek jam tangannya. “Perjalanan kita pulang sekitar 30 menit, artinya sampai rumah udah waktunya isya. Kamu mau rapel salat magrib sama isya? Di sini aja. Aku tunggu.”
“Enggak apa-apa, Mbak, di rumah aja.”
Langit yang keras kepala seperti itu membuat Liana sekerika dongkol. “Sudah sering kayak gini?”
“Kayak gini gimana?”
“Ninggalin salat.”
Laki-laki itu tersenyum tenang, tanpa rasa bersalah sedikit pun mengajukan pertanyaan retoris. “Emang salah ya kalau ninggalin salat?”
Salah! Yang bener aja! Allah yang ngasih kamu segala-galanya aja kamu tinggalin, apalagi aku, kalimat itu hanya tertahan di ujung lidahnya, tanpa berani Liana luncurkan secara langsung.
Kali ini Liana memilih menyunggingkan senyum miris. “Agama kayak lelucon buat kamu, ya.”
Liana tidak bisa untuk tidak emosi. Mood-nya seketika berantakan. Sosok yang pernah ia kagumi karena ketaatannya pada agama, kini berubah. Laki-laki itu tidak lagi seperti Langit yang ia kenal. Terlalu jauh. Terlalu beda. Bagaimana mungkin Langit bisa menuntunnya ke Jannah kalau kewajiban dasar saja ditinggalkan?
Kali ini tolong beritahu Liana untuk tidak denial. Mungkin ini jawaban dari doa yang ia panjatkan beberapa menit lalu setelah salat. Petunjuknya sudah jelas, Langit tidak memenuhi kriteria pendamping hidupnya. Omong kosong dengan berubah setelah menikah, karena Liana tidak pernah percaya dengan itu.
Lalu Liana tidak bisa berbohong kalau ia kepikiran. Ucapan Langit di pantai maupun kejadian di masjid cukup mengganggunya. Sampai-sampai ia kembali mengadukan Langit kepada sang pemilik hati. Berkali-kali dengan tulus, berharap diberikan petunjuk.
Sampai kemudian, tiga hari sebelum Langit kembali ke perantauan, ia bertemu dengan paman laki-laki itu. Keduanya mengobrol cukup lama. Banyak hal yang diperbincangkan. Saking asiknya sampai tidak sadar sudah cerita kemana-mana, hingga dengan gamblang membicarakan Langit.
“Langit bentar lagi bakal tunangan sama pacarnya yang sekarang.”
Satu kalimat yang membuat Liana langsung kehilangan suaranya detik itu juga,
Langit … tunangan? Gila!
Setelah Paman pergi, detik itulah air mata Liana luruh. Jadi laki-laki itu bohong waktu bilang sudah putus? Kurang ajar. Ia dibodohi Langit habis-habisan. Ia tidak mau denial lagi. Atas apa yang sudah ditunjukkan di depan matanya, Langit ternyata tidak se-worth it itu untuk dicintai.
***
“Selamat untuk peran barunya, ya, Langit.” Liana tersenyum tulus saat berhadapan dengan laki-laki berbalut setelan jas hitam formal lengkap. “Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Bersama terus sampai maut memisahkan.”
Liana tidak pernah menyangka bahwa hari dimana ia melihat Langit bersanding dengan perempuan lain telah tiba. Laki-laki yang pernah menjadi alasan ia jatuh cinta dan patah hati, kini terlihat bahagia setelah sah menjadi seorang suami.
“Mumpung ketemu, aku mau sekalian memperkenalkan seseorang.” Liana menoleh lantas menunjuk laki-laki yang berada tepat di belakangnya. Laki-laki berbalut kemeja batik yang dipadukan dengan jeans hitam. “Dia Dimas, tunanganku. InsyaAllah bulan depan kita menikah.”
Walaupun hanya beberapa detik, tapi Liana sempat menyaksikan ekspresi terkejut di wajah Langit. Mungkin terkesan terlalu tiba-tiba, setelah bertahun-tahun mereka menjadi asing, untuk ke sekian kali. Sejak mengetahui Langit akan bertunangan, Liana langsung memblokir segala akses Langit untuk berkomunikasi dengannya. Bahkan Liana menyuruh teman-temannya tidak membahas mengenai Langit ataupun menceritakan apa pun tentangnya kepada laki-laki itu. Jadi baik Langit ataupun Liana benar-benar tidak tahu menahu mengenai kehidupan masing-masing.
Sampai empat tahun berikutnya, Langit mrmberikan undangan pernikahan lewat temannya. Tepatnya dua minggu lalu, sehari setelah ia melangsungkan pertunangan dengan laki-laki yang ia sukai.
Tatapan Liana dan Langit sempat beradu, mencoba saling berkomunikasi walaupun tanpa suara, seakan kata tanya yang Langit layangkan adalah “Serius?” kemudian seolah dijawab Liana dengan kalimat, “Bukan cuma kamu aja yang berhasil menemukan tambatan hati. Aku juga menemukannya. Asal kamu tahu, dia lebih dan lebih segalanya dibanding kamu.”
Ketika Liana tersadar dari lamunan, ia buru-buru maju ke depan. Kali ini ia berjabat tangan dengan istri Langit, sedangkan Langit salaman dengan tunangannya.
Mungkin perjalanan cintanya bersama Langit bisa dibilang lebih dominan dengan luka dibanding bahagia. Pun Langit secara tidak langsung membuatnya cukup lama mati rasa sampai berkali-kali menolak laki-laki yang mau mendekat.
Namun atas semua hal yang terjadi, andai.
Andai Langit tidak hadir dalam hidupnya, Liana tidak akan bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang pura-pura tulus.
Andai Langit tidak pernah memberinya kisah cinta yang berliku, mungkin Liana tidak akan menjadi sedewasa sekarang.
Pun andai Langit tidak pernah menjadi tokoh antagonis dalam hidupnya, mungkin Liana tidak akan bertemu dengan cinta yang kini ia miliki. Sseorang yang jauh lebih baik dari Langit. Laki-laki yang bisa menerima segala kekurangannya dan membut inner child Liana keluar tanpa takut mendapat hinaan.
Kemudian begitulah tepi kisah mereka. Keduanya telah usai. Benar-benar selesai. Dua orang yang pernah berencana merangkai masa depan bersama, kini berakhir bahagia tanpa satu sama lain.
Tamat.
Jepara, 14 Juli 2025
IkhdaNaa
Komentar
Posting Komentar