Waktu yang Tepat

 

Sudah satu jam berlalu sejak keluarga Pratama berkumpul, sejam itu pula evaluasi yang dipimpin oleh pria berusia tujuh puluh tahunan masih berlangsung. Rutinitas itu dilakukan hampir setiap tahun agar Kakek tahu perkembangan dan pencapaian dari anak dan cucunya. Ada sekitar lima belas orang termasuk Kakek di sana. Lalu dari semua yang hadir, Imaniar Pratama selalu menjadi pihak paling mencolok. Pada usianya yang terbilang masih muda, ia selalu membawa segudang prestasi untuk diceritakan.

"Kamu selalu luar biasa, Niar. Kakek bangga kepadamu. Kakek bersyukur sekali dianugerahi cucu sepertimu,” katanya usai Niar memaparkan pencapaiannya selama setahun terakhir. "Namun Kakek akan semakin bangga jika kamu bisa secepatnya menemukan pendamping. Umur dua puluh tujuh tahun termasuk usia yang matang untuk lanjut ke jenjang pernikahan, bukan?"

Senyum Niar otomatis luntur setelah pertanyaan itu dilontarkan. Pertanyaan Kakek terlalu mendadak dan tanpa aba-aba.

"Kamu sudah luar biasa sampai di titik ini dan kini saatnya memikirkan tentang pernikahan. Kamu tidak mau selamanya sendirian, bukan?

Niar sontak jongkok di depan kursi roda kakeknya. Ia mencoba tersenyum lugas sebelum menjawab. "Aku tidak pernah sendiri, Kek. Keluarga Pratama selalu ada di sampingku, termasuk Kakek, Mama, dan Papa."

"Tapi kami tidak bisa selalu berada di sampingmu, Niar. Kami akan semakin menua dan akhirnya meninggal. Sebelum itu terjadi, kami ingin memastikan kamu mendapatkan pasangan yang tepat."

Mata Niar kali ini sudah berkaca-kaca. Terbesit rasa sakit yang mendadak menyelimuti perasaannya. Lidahnya kelu sehingga tidak mampu untuk menimpali lebih lanjut. Demi alam semesta dan seluruh isinya, Niar tidak pernah siap untuk kehilangan.

"Menikah, ya, Niar. Kakek berdoa semoga kamu bisa secepatnya menemukan pendamping hidup, yang baik, bertanggung jawab, dan bisa membawamu ke jannah."

Niar sontak memandang kedua orang tuanya yang berdiri menghadap ke arah dirinya dan kakek. Mereka tampak mengangguk-angguk seolah membenarkan ucapan beliau. Sorot tatapan mereka juga mendadak dilingkupi oleh penuh harap.

Ia Imaniar Pratama, siapa pun yang mengenal sosoknya pasti tahu bahwa perempuan itu memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Wajah yang cantik. Kehidupan yang terjamin dan tidak kurang satu apapun sejak kecil. Keluarga yang harmonis. Kasih sayang yang tercukupi. Otak yang mumpuni hingga berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi sampai jenjang S2. Serta karir yang mapan dan sukses.

Hanya nyaris sempurna, berarti masih ada celah ketidakberuntungan yang ia miliki, salah satunya tentang percintaan. Niar tidak pernah beruntung dalam hal jatuh cinta. Ia pernah mencoba menjalin hubungan dengan banyak orang, sayangnya tidak ada yang berhasil sampai jenjang pernikahan. Beberapa dari mereka enggan diajak komitmen untuk lanjut ke tahap lebih serius, lalu beberapanya lagi bersedia untuk menikah, tetapi justru terhalang oleh kepercayaan. Terakhir rasa cinta Niar berhenti pada rekan kerjanya yang sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan yang sama.

Kelemahan Niar dalam hal percintaan akhirnya dijadikan pusat serangan orang-orang yang membencinya. Mereka selalu berspekulasi bahwa keberhasilan karir dan pendidikan yang Niar raih menjadi alasan utama mengapa banyak laki-laki minder dan kisah cintanya selalu gagal. Padahal generasi yang unggul selalu datang dari keluarga yang sehat, bukan? Kedua orang tuanya juga dari kalangan berpendidikan dan berhasil memberikan peluang keberhasilan untuknya sampai sejauh ini, jadi bukankah wajar jika ia sedang mempersiapkan hal yang sama dengan mengejar pendidikan dan karir secemerlang mungkin?

***

Sekitar dua bulan sejak percakapan dengan Kakek mengenai pernikahan terjadi, laki-laki yang dirinya kagumi diam-diam itu mendadak mengajaknya bertemu dengan alasan ingin membicarakan mengenai projek mereka yang akan datang. Awalnya Niar tidak menaruh kecurigaan apa pun karena laki-laki itu selalu lurus dan tidak pernah berbuat aneh-aneh. Namun siapa yang akan menyangka bahwa sejujurnya laki-laki itu tidak mengajak Niar untuk membahas projek, tapi hendak mengungkapkan hal lain?

“Maaf Niar, sebenarnya saya berbohong mengenai projek itu. Mungkin ini terkesan keterlaluan, tapi saya benar-benar tidak tahu harus mengajakmu keluar dengan alasan apa lagi. Ada hal penting yang ingin saya katakan padamu.” Laki-laki itu menjeda kalimatnya lalu menarik napas sedalam mungkin dan mengembuskannya secara perlahan. Setelah berhasil mengumpulkan seluruh keberanian yang dirinya punya, sebuah pernyataan akhirnya diucapkan sebagai alasan utama mengajak Niar malam ini. “Saya menyukaimu sejak lama, Niar. Mungkin akan terdengar klise ketika saya mengatakannya sebagai cinta pada pandangan pertama. Tapi, saya berani bersumpah bahwa seperti itulah faktanya."

Niar mengerjap pelan, mencoba mencerna semuanya dengan baik. Detak jantungnya berpacu secara gila-gilaan seperti mau copot. Ia tidak sedang bermimpi, bukan? Laki-laki itu sungguh Bara Trisna Deraya, sosok yang membuat cintanya berhenti selama beberapa tahun ini, bukan?

“Saya sering memperhatikanmu dari jauh. Saya tidak pernah menunjukkan rasa suka kepadamu karena ingin melamarmu di waktu yang tepat, di saat saya sudah menjadi utuh. Bertahun-tahun saya menyebut namamu di sepertiga malam, bekerja keras siang dan malam, dan setiap hari berusaha memperbaiki diri agar bisa dianggap layak untuk menjadi pendampingmu. Setelah melewati perjalanan panjang itu, akhirnya hari ini saya memberanikan diri untuk mengatakan semuanya. Jadi Niar, apakah kamu bersedia untuk menjadi pendamping hidup saya di masa depan?

Air mata Niar otomatis luruh tanpa diminta. Ia berharap bisa dipertemukan dengan laki-laki baik yang bisa menerima apa adanya, tetapi kehadiran Bara lebih dari apa yang ia cari, minta, dan doakan selama ini. Bara memiliki segala kriteria calom imam yang diidamkan oleh banyak perempuan di luar sana. Entah sebanyak apa rasa syukur yang harus dirinya panjatkan setelah mengetahui bahwa diam-diam ada orang yang memperjuangkannya semenakjubkan itu.

“Aku bersedia, Bar. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu.” Niar mengusap air matanya perlahan lalu menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman tulus. “Aku juga menyukaimu sejak lama, Bar. Tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya karena menganggap bahwa cintaku tidak pernah berbalas.”

Keduanya saling melemparkan senyum lebar, kini sama-sama tahu bahwa selama ini perasaaan mereka berbalas. Perjalanan cinta panjang membuat mereka akhirnya saling menemukan, mencintai dalam diam, memperbaiki diri untuk bisa menjadi layak satu sama lain, mengungkapkan perasaan di waktu yang dianggap tepat, lalu memutuskan untuk lanjut ke jenjang pernikahan.

Kisah Niar dan Bara akhirnya berhasil mematahkan banyak anggapan yang keliru di luar sana. Laki-laki yang tepat tidak akan minder sekalipun perempuan yang ia sukai memiliki karir dan pendidikan yang cemerlang. Justru ia akan bekerja lebih keras demi bisa dianggap layak dan pantas untuk meminang perempuan itu. Kisah mereka juga membuktikan bahwa orang yang tepat akan selalu datang di waktu yang tepat.


Jember, 5 Juli 2024

IkhdaNaa

Komentar