Rentang Waktu

 

Kita berbeda, tetapi pernah saling menggenggam. Sampai jarak terbentang jauh, tanpa sadar, kita sudah meninggalkan satu sama lain. Berusaha mencari kebahagiaan lain untuk meraih tujuan sesungguhnya.

Ruang kelas yang ada di hadapan Ilyana masih tampak sama meski sudah bertahun-tahun lamanya ia meninggalkan. Ruangan itu masih berdiri kokoh dengan cat kuning yang tak memudar. Seakan-akan tak ada perubahan yang terjadi meski renovasi sekolah dilakukan setiap tahunnya.

Gadis itu perlahan membuka pintu, lantas masuk ke dalamnya. Ada banyak kenangan yang dulu tercipta di dalamnya. Ruang ini, menjadi saksi bisu harapan, kekonyolan, impian, kesenangan, tawa hingga air mata dari persahabatannya.

            Tepat di depan papan tulis, ia mendudukkan diri. Tempat berubin putih itu, pernah menjadi tempat paling mengesankan ketika permainan dengan alur yang sama berulang kali terjadi.

***

“Ada rasa yang tak biasa, yang mulai kurasa, dan entah mengapa. Mungkinkah, ini pertanda, aku jatuh cinta ....”

“Cinta Pertama dari Mikha Tambayong!” Nisya berseru senang. Membuat ketiga gadis yang duduk membentuk pola melingkar bersamanya melotot tajam.

Ilyana memutar bola matanya malas ketika lagi-lagi Nisya dengan mudah menjawab lagu yang ia nyanyikan. Bahkan, dengan lirik yang kurang lengkap seperti itu.

Melihat seisi kelas kini memusatkan perhatian pada mereka, Ilyana mulai berhitung mundur, “Tiga ... dua ... satu.”

“Woi, jangan berisik!”

Tepat sasaran. Hitungannya memang tidak pernah meleset. Permainan tebak lagu antara dirinya, Nisya, Elwina dan April memang selalu mendapatkan cibiran bahkan bentakan dari teman-teman yang tak menyukai mereka. Apalagi dari pemuda bertubuh tambun yang berada di barisan paling belakang itu.

Seakan-akan, mereka dianggap paling berisik, dengan keadaan kelas yang bisa dikatakan seperti pasar.

Jadi, siapa yang seharusnya bersalah? Mereka atau teman-temannya?

See, makanya jangan kegirangan,” ucap April. Sejujurnya, ia selalu kesal dengan Nisya yang tak pernah kalah dalam permainan. Jika dipikir, mungkin Nisya memiliki koleksi lagu yang sangat banyak, hingga berkali-kali lolos dari hukuman.

Menyebalkan.

Saat ketiganya tengah berada di lingkup kekesalannya masing-masing, Elwina—satu-satunya gadis bergingsul di kelas—justru hanya terkekeh. Di antara mereka, gadis itu yang selalu tampak biasa saja.

Datar.

Seperti tak punya ekspresi.

“Bodo amat. Yang penting aku menang lagi.”

Ilyana dan April serempak menghela napas, lalu mengajak Elwina untuk main kembali. Ternyata berhari-hari melakukan permainan yang sama, tak mengubah keadaan bahwa Nisya selalu lebih unggul.

Sekali lagi, fase menang dan kalah tidak berubah. Posisi Nisya selalu berada di paling atas, sedangkan April mendapat hukuman.

Meski begitu, nyatanya keempat gadis itu masih melakukan permainan dengan sukarela dan senang hati.

Merasa tidak masalah untuk ending yang monoton.

“Emang takdirnya kalah.” April mengambil lintingan kertas berisi pertanyaan kejujuran atau tantangan yang berada dalam kotak kecil.

Gadis itu kontan mengucapkan sumpah serapah ketika berhasil membaca isi dari lintingan kertas tersebut. Membuat tiga lainnya penasaran dan ikut nimbrung untuk membaca.

Ilyana yang menjadi pengisi dari kertas tersebut akhirnya menyengir. Ia tak tahu bahwa kertas tersebut akan jatuh ke tangan April. Padahal, ia jelas menulis tantangan tersebut untuk Nisya. Mana tahu jika akhirnya seperti ini.

“Hmm, untung bukan aku yang dapat. Ilyana pasti sengaja buat itu untuk jebak aku,” tebak Nisya dengan kedua tangan yang bersedekap.

Merasa terpojok dengan tatapan tak mengenakkan dari Nisya, akhirnya Ilyana buka suara, “Ya ... ya udah, sih. Kan udah terlanjur. Lagian, mengikuti peraturan juga sebuah keharusan. Jadi mau nggak mau, April harus membuat puisi lalu memberikannya pada teman laki-laki di sini yang pernah disukai. Gampang, kok.”

“Gampang pala lo peyang. Ngasih puisi ke cowok? Gengsi kali, Ly. Yang bener aja kamu.” April menolak keras tantangan konyol yang gadis itu buat. Apa pun hukumannya, pasti ia lakukan, kecuali yang satu ini. Ia benar-benar tidak mau berhubungan dengan manusia yang pernah menjadi sesuatu dalam hatinya.

Sungguh, ia tidak suka dengan tantangan semacam ini.

“Semangat, ya, Pril.” Nisya menepuk bahu April dengan prihatin.

“Kok kamu nggak belain aku?”

“Ya, gimana dong, Pril? Kalau kamu nggak ambil tantangan itu, bisa aja besok kertas itu yang bakal jatuh ke tanganku. But, aku nggak mau itu terjadi. Untuk kali ini, aku memilih egois.”

***

April menggenggam satu kertas dengan perasaan tak karuan. Antara cemas, takut, malu, ingin pergi, semuanya bercampur jadi satu dalam hatinya. Kakinya bahkan sedari tadi maju-mundur, sehingga masih stuck di tempat yang sama.

Ia ingin menyelesaikan tantangan konyol ini, tetapi ternyata ia tak cukup berani untuk mengakhiri. Jika berakhir, itu tandanya ia harus menahan malu seumur hidup karena harus mengungkapkan perasaan secara tidak langsung.

Gadis itu benar-benar akan membalas dendam pada Ilyana setelah ini. Karena Ilyana, perasaannya menjadi tak karuan seperti sekarang.

“Kenapa kamu di sini? Kamu menghalangi jalan saya.”

April mendongak dan terlonjak ketika pemuda yang menjadi tujuan surat di tangannya berada tepat di depan mata.

“Sekarang malah melamun,cibir pemuda itu setelah beberapa menit tidak mendapat respon apa pun dari April.

“Oh, maaf,” ucap April, lalu menggeser tubuh.

Sekarang, ia membagi tatapan antara surat di tangannya dengan punggung pemuda itu yang mendekat ke arah meja guru.

Meski dua tahun berada di kelas yang sama, April masih melihat titik beku dari pemuda itu. Seperti tak bisa dilelehkan, ia tidak yakin bahwa suratnya ini akan diterima baik-baik.

Ilyana hampir saja berteriak untuk meminta April segera menyelesaikan tantangan, jika Nisya tak membekap mulut gadis itu. Mereka tentu tahu bahwa pemuda yang berlalu ke meja guru adalah sosok yang April sukai diam-diam.

“Maaf, boleh kita bicara sebentar?” Jantung April berdetak sangat kencang ketika pemuda itu kini menatapnya dengan bingung. Sebisa mungkin ia terlihat normal. “Aku ingin memberi ini sama kamu, Arkan.”

Belum sempat surat tersebut berpindah tangan, Arkan sudah lebih dulu menyingkirkan tangan April hingga kertas tersebut akhirnya jatuh. Unfaedah!

April menatap puisinya dengan nanar. Padahal, Arkan belum bertanya tujuan dari surat itu, tetapi sudah menolaknya mentah-mentah. Apakah jatuh cinta dalam diam memang sesakit ini?

Ilyana yang tak terima kontan memungut kertas tersebut, lantas mengikuti langkah Arkan.

Ketika pemuda itu nyaris melangkahkan kaki ke luar kelas, Ilyana sudah menarik kemeja putih Arkan. Hingga langkah mereka sama-sama berhenti. Arkan mengempaskan tangan dari kemejanya dan membalikkan badan.

Raut permusuhan Arkan adalah hal pertama yang Ilyana tangkap.

“Ada ya, cowok sombong kayak kamu? April bela-belain nahan malu untuk memberikanmu sesuatu. Tapi kamu tolak gitu aja? Hebat banget. Nggak pernah diajarin, ya, gimana caranya menghargai orang lain?”

Sekarang, mereka menjadi pusat perhatian seisi kelas.

“Terus? Ada masalah sama kamu?”

“Ada! Temenku terluka gara-gara kamu!”

Bukan. Itu bukan Ilyana yang berteriak, melainkan Nisya.

“Terus yang menyuruh April untuk membuat surat konyol seperti itu, siapa?” Arkan membuang napas kasar, lantas melanjutkan, “saya?”

Ilyana geram. Ingin rasanya ia mencakar wajah itu. Jika saja tidak memikirkan perasaan April, sudah pasti ia akan memberi pelajaran pada Arkan.

Tanpa disadari, ketiganya berada dalam lingkaran perdebatan yang panjang. Hingga mengundang April untuk melerai. Meski perasaan benci Ilyana dan Nisya belum hilang, setidaknya mereka mengalah lebih dulu untuk membuat April tidak merasa bersalah karena menimbulkan keributan ini.

Arkan pun berdecih dan kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena Ilyana.

“Maaf, Pril. Maaf, karena tantangan konyol itu, kamu harus sakit hati hari ini.” Ilyana menyesal. Sungguh.

Jika ia bisa memutar waktu, ia pasti akan membuang tantangan itu dan menggantinya dengan hal yang tak berhubungan dengan perasaan. Namun, nyatanya, sesuatu yang sudah berlalu tidak akan bisa kembali lagi. Karena itulah, hanya maaf yang bisa ia katakan pada April. 

“Nggak apa-apa. Dari dulu memang dia nggak pernah bisa aku sentuh. Justru karena tantangan itu, sekarang aku sadar bahwa tak seharusnya menyimpan rasa pada cowok yang bahkan tak tahu kehadiranku di sini.”

Ilyana sontak memeluk April. Untuk sosok yang tersakiti, April terlalu baik.

***

Ia akui, ia rindu dengan persahabatan mereka yang dulu.

Persahabatan yang saling menguatkan dan tak melepaskan satu sama lain, meski dengan berbagai cobaan yang silih berganti.

Mereka yang dulu tak sungkan membagi keluh kesah.

Pun, keempatnya yang selalu tertawa untuk sesuatu yang teramat sederhana.

Bertahun-tahun, hanya kenangan-kenangan itu yang tersisa. Setelah mereka memutuskan untuk mengambil halauan masing-masing, keempatnya terpisah jarak. Awalnya, koneksi hubungan masih baik. Saling bertukar kabar, menyempatkan waktu untuk bertemu, hingga melakukan permainan konyol yang biasa mereka lakukan meski lewat media sosial.

Hingga tiba hari di mana mereka dihadapkan dengan berbagai kesibukan, rutinitas kecil itu tak terlaksana lagi.

Mereka perlahan menjauh. Janji yang dulu pernah diucapkan untuk masih saling mengabari satu sama lain, nyatanya hanya tinggal janji belaka.

Mereka memang belum saling melupakan, tetapi karena jarak, hubungan itu pun merenggang.

Tanpa sadar, detik ini, mereka sudah sangat jauh satu sama lain.

Bahagia dengan kehidupannya masing-masing.

“Semoga, ada pertemuan indah di kemudian hari.” Ilyana bergumam sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tepi Kisah

Terima Kasih, Kenandra

Rumah yang Rusak