Change of Life
Jika merasa bahwa hidup terlalu monoton, berubahlah. Coba semua hal yang kamu sukai. Lelah, bosan, ingin menyerah, gagal, ataupun jatuh mungkin akan mengiringi. Namun, bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang indah, kita memang harus melewati fase tak mudah? Tidak masalah. Selagi semua hal itu bisa menjadikan kita lebih baik, jalani saja.
Setumpuk
buku dan kertas berserakan di meja belajarku. Laptop sedari tadi menyala tanpa
kenal waktu. Aku masih di tempat yang sama sejak lima jam terakhir, berkutat
pada laptop dan buku demi mengurangi tagihan tugas kuliah. Ingin rasanya
berhenti sejenak, mencoba menikmati hidup dengan melakukan hal-hal yang
menyenangkan. Sayangnya, aku tak pernah bisa melakukannya. Bagaimana mungkin
aku berhenti, sedangkan semua tugas mengiang bak hantu mengiringi langkahku? Seakan
tak memberi jeda untukku bernapas lega.
Aku
menatap sedih pada list tugas yang tertempel di dinding, menyatakan bahwa 5
tugas harus aku selesaikan dalam tiga hari ke depan. Aku mengembuskan napas
penat, lantas mengusap wajahku frustrasi.
Sejak
kuliah daring, segalanya tampak begitu berat. Tugas kian menumpuk layaknya
gunung yang siap meletuskan otak. Semua materi yang diberikan dosen, tampak
menguap begitu saja. Hobi terkendala. Apalagi perjumpaan dengan teman-teman tak
bisa sesering dulu. Mereka sibuk dengan kehidupannya masing-masing, pun
melangkah lewat jalannya tersendiri.
Lelah.
Itulah keadaan yang bisa aku gambarkan sejak sebulan terakhir. Aku merasa bahwa
sebulan itu, pikiran, dan hatiku tak menemukan titik ketenangan sama sekali. Segalanya
tampak begitu rumit dalam fase harianku.
“Kamu
capai, ya?”
Suara
itu menggema seiring dengan pintu kamar yang terbuka. Langkah yang semakin
dekat membuatku menoleh ke pemilik suara.
Tepat
di belakang kursi yang aku duduki, Mama berdiri dengan senyum yang merekah. Aku
pun kembali menatap layar laptop, lantas mengangguk pelan.
“Banyak tugas?”
Aku
lagi-lagi mengangguk.
“Kamu
sudah makan?”
“Belum,
Ma.”
“Sudah
jam 9 malam. Ayo makan,” ajak mama yang kemudian menggapai tanganku dengan lembut.
“Tapi,
Ma, tugasku belum selesai.”
“Deadline-nya
kapan?”
“Besok
malam.”
“Masih
ada waktu esok, Nak. Sedangkan perutmu harus di isi.”
“Kalau
aku tunda-tunda, tugasnya akan semakin numpuk, Ma.”
Sifat
keras kepalaku menurun dari Mama, itulah mengapa hingga lima menit kami masih
berdebat mengenai topik yang sama.
“Kalau
kamu sakit, tugasmu juga bakal terbengkalai.”
Skakmat.
Aku
menyerah. Lantas mematikan laptop dan beranjak keluar kamar, yang di ikuti Mama
dari belakang.
Sepi.
Ruang rumah begitu sepi. Apakah seluruh penghuni sudah tertidur? Padahal
biasanya masih ada adik, kakak dan bapak yang masih menonton TV. Entahlah, aku
pun tidak terlalu memikirkan itu.
“Mama
ambilin, ya?”
“Rena
bisa sendiri, Ma.”
Mama
kontan mengangguk dan duduk depanku, terbatas oleh meja makan. Beliau masih
menatap setiap pergerakanku dengan senyuman kecil.
“Mama
kenapa liat Rena seperti itu?”
Usai
mengambil nasi dan segala lauk-pauknya ke dalam piring, aku segera melahap
makanan dengan tenang. Setidaknya Ketika makan, aku bisa mengistirahatkan
pikiran sejenak.
“Kamu
hebat.”
Aku
kontan berhenti mengunyah, cukup terkejut dengan dua kata itu. Pasalnya, Mama
bukan tipe wanita yang pandai memuji. Bahkan, ketika aku meminta pendapat mengenai
suatu hal, Mama selalu mengatakan bahwa hal itu biasa saja.
Sadar
dengan aksi yang aku tunjukkan, Mama kembali berucap, “Mama tahu kamu lelah. Tugas
kuliah kamu kian hari kian menumpuk. Tapi, Mama bangga kamu bisa bertahan
sampai sejauh ini.”
Aku
menelan makanan dengan susah payah. Entah kenapa setiap menerima pujian, lidahku
mendadak kelu. Mungkinkah karena aku merasa bahwa tak pantas menerimanya?
Seburuk itukah pendapatku mengenai diriku sendiri? Menyedihkan.
“Rena
nggak sehebat yang Mama kira. Rena udah cape, Ma.”
Aku
menunduk dalam, tak siap menerima tatapan Mama yang sulit aku artikan. Air mata
yang tak seharusnya keluar itu, mendesak pelupuk mata hingga akhirnya tumpah. Setelah
sekian lama, kata “lelah” akhirnya terlontar dari bibirku.
Berulang
kali aku berusaha menyeka air mata, berulang kali juga ia mengalir cukup deras.
Pasokan oksigen mendadak menipis, membuat dadaku kian sesak.
Mama
beralih mendekatiku, merengkuh tubuhku dari samping. “It’s okay, ini
memang berat. Tapi, jika kamu sudah mulai, proses itu konsekuensinya.”
“Tapi,
Rena beneran ngerasa bahwa hidup Rena berat banget. Beberapa hari ini, pikiran
dan hati rena sama sekali nggak tenang. Segalanya tampak penat untuk Rena.”
Mama
melepas rengkuhannya, lantas menatap mataku lekat-lekat. “Kamu sudah dekat sama
Allah?”
Deg!
Aku
membatu. Jantungku pun sempat berhenti berdetak beberapa detik. Pertanyaan itu
berhasil menamparku pada realita bahwa selama ini aku memang sudah berada di
lintasan paling jauh dari Allah. Aku sibuk dengan akivitasku sebagai mahasiswa
yang memiliki tugas menumpuk, menjalankan perintah 5 waktu dengan asal, dan
mengabaikan kegiatan sepiritual lainnya.
“Kamu
sudah salat Isya’?”
Aku
tersadar dari lamunan, lalu menggeleng lemah.
“Selesai
makan, jangan lupa salat. Percayalah bahwa Allah tidak akan membuatmu tersesat.
Asalkan kamu mau untuk dekat dengan-Nya, InsyaAllah semua hal bisa
terselesaikan. Termasuk hati dan pikiran kamu yang tidak tenang bisa terobati. Satu
hal lagi, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas itu baik. Sangat baik. Tapi, ketika
sesuatu yang baik justru mampu menyakiti diri sendiri, itu namanya dosa. Kalau cape,
istirahat. Rehat sejenak, lalu lanjut lagi. Jangan memaksakan diri. Kesehatan
mental, pikiran dan mental juga harus kamu perhatikan. Proses yang baik itu
adalah bagaimana kamu bisa balance antara ketenangan dan kewajiban. Berikan
ikhtiar terbaik untuk menjalankan kewajiban, tugas, dan kesenangan dirimu
sebagai mahasiswa maupun seorang muslimah.”
“Terima
kasih, Ma. Mama sudah memberikan solusi paling baik untuk semua masalahku
selama ini.”
“Kalau
kamu ada masalah, cerita pada keluargamu. Kamu masih punya Mama, kakak dan ayah
yang siap membantu untuk menyelesaikan jalan keluar.”
Bagiku,
hal terhebat yang pernah aku dapatkan adalah memiliki keluarga hangat seperti
sekarang. Terlepas dari Mama yang jarang sekali memuji, beliau adalah sosok
yang bijaksana. Buktinya, beliau mampu membuat perasaanku menjadi lebih baik
daripada sebelumnya.
***
Pukul
sepuluh malam, aku masih terjaga di atas sajadah. Setelah banyak berbincang
dengan Mama, aku segera mengambil air wudhu dan bersujud kepada Allah. Rasanya
begitu tenang. Bahkan aku yakin, dari sekian banyak salat, baru kali ini aku
melakukannya dengan khusyu’. Usai salam terakhir, aku mengangkat kedua
tangan lantas mulai mengucapkan banyak kalimat untuk menumpahkan segala
kekecewaan, kesedihan, keluh kesah dan kecemasan hatiku malam ini. Tangisku berhasil
pecah saat itu juga.
“Aamin
ya robbal alamin.”
Aku
mengusap wajahku menggunakan kedua tangan, lantas menghembuskan napas perlahan.
Setelah itu, aku benar-benar merasa bahwa beban yang semula ada di pundakku,
perlahan meluruh seiring dengan hatiku yang lebih tenang.
Mama
benar, ketika aku dekat dengan Allah, segalanya akan lebih mudah.
Alhamdulillah. Aku menemukan obat untuk kecemasan yang tak berujung.
***
Tentang
hidup yang memang harus berubah menjadi lebih baik, sekarang aku berjanji akan
selalu berusaha menampilkan hal terbaik yang bisa aku lakukan. Setelah malam
itu, aku berubah. Aku bukan lagi seorang Rena yang overthinking. Bukan
pula Rena yang menyakiti diri sendiri dengan menjadikan tugas sebagai beban.
Rena saat ini adalah aku yang sudah bisa menerima semua keadaan, mengikhlaskan
segala masa lalu, dan mengupayakan hal terbaik untuk tetap menjalankan
kewajiban dan menjaga Kesehatan. Rena yang sekarang sudah mampu mencintai dan
menghargai dirinya sendiri.
Setelah
malam itu juga, aku mencatat segala hal yang ingin aku lakukan ke depannya,
menentukan skala prioritas dengan jadwal-jadwal yang tidak membebankan, mencoba
hal-hal baru yang menyenangkan, hingga menemukann jati diriku yang
sesungguhnya.
“Sejak
kapan kamu suka melukis? Bagus sih ini.” tanya sahabatku, Addin. Gadis itu
masih menatap takjub pada lukisan bunga mawar yang aku perlihatkan padanya.
“SD.
Tapi, saat SMA aku berhenti melukis.”
“Why?”
“Banyak
tugas.”
“Bukannya
tugas kuliahmu saat daring ini lebih banyak?”
“Iya.
Melukis hanya hobi sampingan saat aku benar-benar penat.”
Addin
mengangguk, lantas meletakkan lukisan ke atas meja. “Aku punya teman seniman.
Dia selalu mengadakan pameran setiap tahunnya. Aku akan nyoba nanya dia, apakah
karyamu bisa masuk ke sana apa nggak. Sangat disayangkan kalau karya sebagus
ini tidak diketahui orang lain.”
Aku
terperengah, sekaligus menggoncang tubuh Addin heboh. “Benarkah?”
“Iya.”
“Aw,
maaciw. Kamu memang sahabat terbaik yang aku punya.”
“Kalau
ada maunya deh, baru bilang kalau aku ini baik.”
Dia kontan mengerucutkan bibir, sedangkan aku terkekeh.
End.
Komentar
Posting Komentar