Apa Arti Bahagia?

 Berharap kepada seseorang kenyatannya hanya mendatangkan luka. 

Happy birthday to you …

Happy birthday to you …

Dini hari pukul 00.20, nyanyian tersebut berhasil membangunkan satu-satunya gadis yang meringkuk di bawah selimut bergambar doraemon. Gadis itu mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya kamar.

Happy Birthday, Kiana.”

Suara bariton itu mampu menghadirkan seulas senyum dari bibir Kiana. Gadis itu sontak mendudukkan diri setelah berhasil mengumpulkan nyawa secara utuh.

Make a wish dulu, Sayang.”

Seakan patuh dengan pemuda berperawakan tinggi itu, Kiana memejamkan mata dengan mulut berkomat-kamit mengucapkan permintaan. Ia berharap di usia yang menginjak 20 tahun ini, ia bisa menjadi gadis yang lebih bermanfaat untuk orang lain dan senantiasa diberi kebahagiaan.

Usai melakukan ritual doa, ia meniup api dari lilin yang berada di atas kue tart yang lagi-lagi bergambar doraemon.

“Semoga apa yang kamu doakan setiap hari bisa cepat dikabulkan sama Allah.” Satu kecupan mendarat di puncak kepala Kiana.

“Aamiin. Makasih untuk segalanya, Ai. Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku dan menjadi sosok yang menerimaku apa adanya.” Gadis berlesung pipit itu memberikan potongan kue pertama untuk pemuda yang sudah empat tahun ini hadir dalam hidupnya sebagai pasangan.

“Aku ada satu kejutan lagi buat kamu.”

Pipi Kiana seketika merah ketika ia membayangkan pemuda itu akan memberikan cincin sebagai tanda keseriusan hubungan mereka. Akan menjadi hal yang sangat membahagiakan jika ia menjadi istri dari Anggara, sosok yang sampai saat ini masih digandrungi oleh banyak perempuan.

“Aku mau kita putus, Ki.”

kiana tak tahu apakah Angga serius dengan ucapannya atau tidak. Namun yang pasti, jantungnya sempat berhenti beberapa saat setelah kalimat tersebut terucap. Ia hanya berharap Angga tengah mengerjainya. Semoga bukan kata putus yang pacarnya maksud sebagai kejutan.

Semoga.

“Kamu bercanda, ya? Nggak lucu, Ai,” ucap Kiana, masih mempertahankan senyumnya.

“Aku serius.”

Kiana kontan menggeleng cepat. Perasaan takut seketika melingkupi hatinya. Senyumnya sudah memudar berganti dengan kernyitan di dahi. Mana mungkin Angga mau putus dengannya jika mereka sebelumnya baik-baik saja?

“Nggak, pasti kamu bercanda. Ini Cuma prank untuk kejutan selanjutnya, ‘kan? Kita nggak ada masalah apa pun loh, Ai,” tanya Kiana dengan pertahanan seadanya. Ia tak bisa memungkiri dengan hatinya yang sudah berdenyut nyeri.

Angga membawa tangan mungil Kiana ke dalam rangkuman tangannya. “Ki, dengerin. Aku nggak bercanda. Aku serius. Kita udah nggak bisa jalan sama-sama lagi. Aku udah nggak nyaman sama kamu. Aku mau kita jalan masing-masing mulai sekarang.”

Gadis itu melepaskan tangannya dari Angga, lantas mundur perlahan. Ia menggeleng cepat dengan air mata yang hampir tumpah. Kejutan apa yang dimaksud oleh kekasihnya? Putus? Tidak. Angga pasti berbohong.

Sekali lagi, Kiana melihat sorot mata Angga. Ada kesedihan di sana meski hanya sedikit. Namun, hal yang membuat hatinya hancur adalah ketika ia tak menemukan tanda kebohongan dari tatapan tersebut. Dadanya seketika sesak ketika sadar bahwa pemuda itu memang tak pernah main-main dengan perkataan. Empat tahun menjalankan hubungan, Kiana tentu tahu seperti apa sorot kejujuran dan kebohongan dari pacarnya.

Atau mantannya.

Angga mencoba mendekat ketika Kiana menangis, tetapi tertawa sumbang. Jujur, ada luka tak kasat mata ketika ia menyaksikan seseorang yang pernah berharga di hidupnya hancur.

Dan itu karenanya.

“Pergi dari kamarku! Pergi!” teriak Kiana tepat saat tangan Angga nyaris menyentuh bahu gadis itu. 

“Ki, ada hal yang perlu aku jelasin sama kamu.”

“Sayangnya aku nggak butuh penjelasanmu! Pergi atau aku telepon polisi karena masuk kos tanpa permisi!”

Hati Angga berdenyut hebat. Seumur hidup, ini pertama kalinya ia mendengar bentakan sekeras itu dari Kiana. Sepertinya luka yang ia torehkan pada gadis itu menghunus tepat pada sasaran. 

Ia tahu bahwa Kiana akan sangat membencinya setelah hari ini.

Dengan gontai Angga meninggalkan Kiana. Tepat pintu kamar tertutup, Angga meminta maaf. Hanya gumaman lirih yang tidak akan gadis itu dengar.

Kiana membaringkan tubuhnya kembali, lalu menangis tanpa suara. Terlalu sakit mengetahui bahwa orang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya melakukan hal seniat ini untuk melukai. Ulang tahun yang biasa memberikan kesan warna, sekarang hanya tinggal gelap. Harapan yang semula melambung tinggi tentang hubungan yang sejati, nyatanya hanya menimbulkan jejak luka.

***

Happy Bithday, Ki. Selamat ulang tahun. Semoga Panjang umur. Sehat selalu. Semoga nggak bucin lagi. dan tetap menjadi sahabat terbaik untukku.”

Sasha menyengir kuda setelah mengatakan kalimat tersebut. Seperti biasa, gadis berambut hitam pekat sebahu itu selalu menjemput Kiana untuk berangkat kuliah bersama. Itu semua sudah ia lakukan sejak mereka semester satu. Meski jarak rumahnya dan kos Kiana lumayan jauh, tetapi Sasha melakukannya dengan senang hati.

“Ki, kamu belum bangun?” tanya Sasha ketika tak ada respon apa pun dari Kiana yang tidur memunggunginya.

Tanpa menunggu respon Kiana selanjutnya, Sasha menyibak selimut dan membalikkan tubuh Kiana untuk menghadapnya.

Hatinya seketika mencelus saat melihat sahabatnya jauh dari kata baik-baik saja. Mata sembab, lingkaran hitam di bawah mata, rambut acak-acakan hingga air mata yang masih setia mengalir.

“Kenapa bisa begini?”

“Ang … Angga mutusin aku, Sa.”

Kiana bangkit dan langsung berhamburan di pelukan Sasha. Tak ada yang bisa ia lakukan semalam selain menangis. Kepalanya berat, matanya mengantuk, tetapi ia tak bisa tidur. suara nyanyian ulang tahun, kejutan spesial, harapannya, kalimat putus dan alasan Angga bak radio rusak yang memutar berulang kali dalam memorinya. Dadanya semakin sesak ketika memikirkan hari yang pernah begitu indah bersama Angga.

Kiana tahu, ia menyedihkan.

Sasha masih belum bisa mengatakan apa pun untuk menanggapi kabar mengejutkan yang sahabatnya katakan tadi. Bagaimana mungkin pemuda bijaksana yang ia kenal sebagai pacar Kiana melakukan hal sejahat ini, mengatakan kalimat putus ketika sahabatnya tengah menikmati hari bahagia? Bagaimana bisa Angga sebodoh itu untuk memutuskan sesuatu?

“Aku berharap ini mimpi buruk, Sa. Sungguh. Aku berharap setelah ini aku bangun dan semuanya kembali normal. Ini hari yang penting untukku, tidak mungkin ‘kan Angga meminta putus? Aku pasti mimpi buruk, Sa. Aku yakin.”

Kiana menepuk pipinya bekali-kali, masih berharap bahwa apa yang dikatakan Angga semalam hanyalah sekadar mimpi belaka.

“Ki,” lirih Sasha. Pipinya sudah basah. Seharusnya hari ini menjadi hari yang spesial untuk Kiana, tetapi Angga menghancurkan segalanya. “Jangan seperti ini.”

Kiana selalu menyukai ulang tahun. Gadis itu selalu menunjukkan binar bahagia setiap kali hari lahirnya tiba. Karena baginya, di hari spesial ini, akan banyak doa dan kasih sayang dan orang-orang limpahkan padanya. Namun, setelah kejadian ini, Sasha tidak yakin bahwa gadis itu masih mengharapkan hari ulang tahun. Ia hanya takut, Kiana justru akan membenci hari di mana gadis itu dilahirkan.

Artinya, tak akan ada tawa bahagia sahabatnya untuk menanti hari spesial.

“Ternyata aku nggak bermimpi, Sa. Hari ini nyata. Angga membuat hubungan kami berakhir tepat di hari yang selalu aku tunggu setiap tahunnya,” ucap Kiana setelah ia merasakan sakit akibat tepukan keras dari tangannya sendiri.

Hati Sasha ikut terluka ketika mendengar suara tawa menyakitkan dari Kiana. Beberapa tahun saling kenal, ia baru melihat Kiana sehancur ini. Kiana bukanlah gadis cengeng, itu yang Sasha tahu. Jika malam ini Kiana menangis tanpa henti, bukankah kejadian yang menimpa sangat menyakitkan?

“Dia cuma bilang kalau dia udah nggak nyaman sama aku. Padahal sebelum hari ini, semuanya baik-baik aja. Sebenarnya aku yang nggak peka atau dia yang bodoh, Sa?”

Kiana melepaskan rengkuhannya lebih dulu, lalu beralih menatap Sasha, menunggu jawaban.

“Dia yang bodoh, Ki. Angga bodoh karena ninggalin gadis sebaik kamu.” Sasha mengusap air mata yang masih setia mengalir dari mata Kiana. “Dia brengsek karena mutusin kamu dengan alasan nggak jelas kayak gitu.”

Kiana masih setia menunggu jawaban Sasha. Jika dulu ia tidak menyukai orang lain menjelekkan Angga, maka hari ini sebaliknya, ia menikmati setiap makian untuk Angga. Mungkinkah ini yang dinamakan dendam?

Selesai.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tepi Kisah

Terima Kasih, Kenandra

Rumah yang Rusak